Bagian JLPT yang Paling Bikin Gagal
Ayo bulan Juli udah makin deket loh, siapa di sini yang masih berleha-leha belajarnya? Udah kebagian kuota kan?. Ya kali ini aku mau bahas tentang JLPT. Oke, jujur deh. Buat kalian yang sekarang lagi persiapan JLPT, bagian mana yang paling kalian takutin? Aku yakin sebagian besar dari kalian bakal jawab: "KANJI dong, kak! Banyak banget, susah lagi!" Nah, justru di situ banyak yang salah kaprah. Kenapa? Ayo kita bahas!
Kalian yang masih pemula ketika liat kanji, pasti langsung ngerasa kanji itu seram. Tapi tau ga? Ternyata bukan itu yang jadi penyebab paling banyak orang gagal ketika test JLPT. Ada "penghalang tak terlihat" yang sering banget luput dari radar persiapan kalian, udah kaya penyakit jantung yang tiba-tiba menyerang. So, di artikel ini aku mau bongkar satu per satu supaya kalian bisa mengantisipasinya ya. Tapi sebelum itu, siapa tau ada yang belum tau struktur ujian dalam JLPT, jadi aku coba rangkum dulu struktur ujiannya biar kita sefrekuensi ya.
Struktur Ujian JLPT yang Wajib Kamu Pahami Sebelum Mulai Belajar
JLPT N5~N4 terdiri dari tiga bagian besar:
1. Moji Goi (文字・語彙) — Kanji dan kosakata
2. Bunpou + Dokkai (文法・読解) — Pola kalimat dan membaca
3. Choukai (聴解) — Mendengarkan
Sedangkan N2 dan N1 jadi 2 bagian
1. Gengo Chisiki (言語知識) — Pengetahuan bahasa (meliputi kosakata, kanji, pola kalimat dan membaca)
2. Choukai (聴解) — Mendengarkan (Listening)
Sistem penilaiannya bukan sekadar ngejar minimal total nilai secara keseluruhan, tapi ada juga passing score per sesinya. Artinya, kalian bisa punya total nilai tinggi, tapi kalau salah satu seksinya di bawah batas minimum, tetap TIDAK LULUS. Ini yang sering banget jadi jebakan, karena masih ada yang ngira ga perlu mahir di semua sesi, dan hanya fokus untuk mahir di satu sesiinya aja udah cukup tanpa mengetahui ada sessional score yang harus di kejar di setiap sesinya. Udah paham sampe sini? Berarti kalian harus punya skill yang merata ya untuk bisa lulus.
Kanji si "Bintang Iklan" yang Ternyata Bukan Musuh Utama
Kita ambil contoh deh kalau mau ikut JLPT N4, kalian perlu hafal bentuk kanji N4 sekitar 200 kanji, ditambah yang N5nya sekitar 80 kanji jadi totalnya sekitar 280an ya. Kedengarannya banyak, tapi sebenarnya ini adalah kanji-kanji yang cukup sering muncul di kehidupan sehari-hari. Karena sering muncul, kalian yang rajin baca atau dengerin materi Jepang secara konsisten bakal familiar dengan banyak dari kanji ini. Konsistenkan nambahin kanji baru tiap hari, terus dengan banyak baca-baca tulisan Jepang kalian bisa hafal kok sama kanji.
Aku ga bilang kanji bisa dikesampingkan dan bisa diabaikan ya! Tapi maksudku, kanji itu visible enemy. Kalian tau musuhnya, bisa dihitung, bisa didrill satu per satu. Tapi dalam ujian seperti JLPT, yang berbahaya justru sesuatu tidak kelihatan seperti musuh. Aku coba jabarin apa aja penghalang tak terlihat yang perlu kalian hadapi.
3 Penghalang Tersembunyi yang Sering Bikin Peserta JLPT Gagal
Choukai (Listening) — Sesi yang Paling Diremehkan
Ini dia yang paling sering bikin orang kaget di hari H ujian.
Banyak peserta yang belajar berbulan-bulan tapi porsi latihannya 90% baca dan hafal, 10% dengerin. Begitu masuk ruang ujian, soal listening muncul, dan... panik. Di level N5 dan N4 mungkin masih terasa gampang banget soalnya pace atau kecepatan ngomongnya masih terbilang pelan. Tapi karena cuman diputar sekali, dan ga ada teks yang bisa dibaca ulang, banyak yang ngeblank saat sesi ini.
Soal listening itu bukan sekadar "dengar lalu pilih jawaban". Ada soal yang menguji kemampuan kalian untuk memahami konteks percakapan, bukan cuma kata per kata. Misalnya dua orang lagi ngomongin jadwal, dan kalian harus nyimpulin mereka setuju ketemu jam berapa. Kalau kalian jarang latihan listening, kosakata yang udah dihafalin pun jadi percuma karena otak belum terlatih memproses bahasa yang masuk lewat telinga bukan lewat mata.
Untuk yang telinganya udah terbiasa dengan bahasa Jepang seperti dari anime, drama, lagu-lagu Jepang atau mungkin dari game, bisa jadi listening akan terasa relatif mudah. Tapi aku tau ga semua dari kalian melakukan itu, jadinya ada yang ngerasa listening itu bukan sesi yang mudah. Kalau mau latihan listening yang penglafalan dan pace bicara yang dekat dengan native coba banyak-banyak nonton drama dan variety show Jepang. Tapi untuk melatih listening sebaiknya ga pilih-pilih, silahkan latihan dari mana yang kalian suka dan sesuai dengan level kalian dulu.
Grammar JLPT Bukan Soal Hafalan, tapi Pemahaman Konteks
Banyak yang belajar pola kalimat dengan cara menghafal rumus, contoh waktu belajar pola kalimat "Bentuk TE + から = setelah melakukan A, lakukan B." Hafal? Iya. Tapi pas ketemu soal, tetap bingung?
Ini karena soal grammar di JLPT itu bukan ujian hafalan rumus, tapi ujian pemahaman konteks. Soalnya sering dalam bentuk kalimat panjang yang disisipin grammar point di tengah-tengah, dan jawabannya kelihatannya mirip semua. Buat yang cuman hafal rumus A = B, pasti bakal kebingungan waktu ngerjain soal pola yang mirip. Contoh, kalian pasti tau bedanya Bentuk TE + もいいです dan Bentuk A + なければならない, tapi kalau udah masuk ke kalimat kompleks dengan konteks percakapan tertentu, pilihannya bisa bikin ragu.
Ya sebenernya kalau ngomongin pola kalimat yang lebih sering jadi jebakan untuk para pemula itu bisa jadi "partikel" ya? Partikel secara jumlah ga sedikit sih tapi sebenernya simpel kalau paham logikanya. Kenyataannya banyak yang menghafalkan partikel tanpa mengerti logika penggunaannya. Contoh paling seringnya di partikel-partikel keterangan tempat. Kapan kita pakai partikel へ, に, で, sama を. Kalau paham logika perbedaannya sebenernya partikel akan terasa gampang. Inget kuncinya bukan hafal tapi paham. Mau sampai kapan kalian di level kognitif menghafal? Bahasa itu bukan hanya di hafal tapi dipahami, yang akhirnya diaplikasikan di keseharian kalian.
Manajemen Waktu saat Ujian JLPT
Kita mengelola waktu ga hanya di tempat kerja loh. Ketika ikut ujian seperti JLPT akan terasa sangat berbeda ketika kalian bisa mengelola waktu kalian selama proses ujian. Ini yang paling jarang banget dibahas orang, padahal dampaknya sangat terasa di hari ujian.
Kenapa? Karena JLPT itu ada batas waktunya. Tiap level dan tiap sesi punya durasi waktu yang berbeda. Kejadian di lapangan sering kali peserta sebenernya tau jawabannya, tapi kehabisan waktu karena terlalu lama di soal tertentu. Ujung-ujungnya soal-soal di akhir diisi asal-asalan. Gara-gara kehabisan waktu jadi ya udah diisi apa aja lah dari pada kosong. Padahal udah belajar bagian itu loh, jadi pasti bisa jawab benernya. Kalau gitu kan skor kalian jadi ga bisa maksimal ya. Harusnya kalian bisa lulus tapi malah gagal karena soal-soal yang bisa kalian isi dengan bener malah diisi asal-asalan.
Makanya ketika ngerjain soal JLPT, pastikan kalian mengerjakannya secara efektif. Ketika kalian udah baca soal, dan pilihan gandanya kalian GA KENAL sama kanjinya atau sama pola kalimatnya, mau dipikirin sampe kepala kalian botak juga ga akan dapet jawabannya. Jadi ya udah langsung skip aja dan move on ke soal berikutnya. Pastikan semua soal yang kalian bisa bener udah keisi dulu, sisa yang ga yakin atau yang ga tau isinya bisa dipikirin nanti belakangan. Inget ya SKIP SOAL YANG BIKIN BINGUNG dan pikirin soal itu belakangan aja.
Lalu Gimana Strategi Belajar Kanji yang Benar untuk JLPT?
Oke balik lagi ke kanji. Aku bilang bukan halangan, tapi bukan berarti diabaikan ya! Secara jumlah memang banyak, dan ini harus dipelajari. Kalau fondasi kanji kalian kuat, bagian lain jadi lebih mudah. Karena di soal kanji, kosakata, bunpo, sampai dokkai (membaca) kalian bakal ketemu banyak teks yang butuh pemahaman kanji. Tapi kita tau kanji apa aja yang perlu dipelajari kan? Coba baca buku kanji N5 atau N4, pasti ada list kanji apa aja yang perlu dipelajari. Bahkan ada kanji card yang membantu kalian belajar kanji lewat ilustrasi.
Jadi kanji itu musuh yang terlihat bentuknya dan ga sulit untuk mengalahkannya selama kita tau cara belajarnya. Yang kesulitan mengerjakan soal kanji, itu mereka yang memang belum belajar aja. Belum kenal bentuk kanji dan makna kanjinya. Yang masih kesulitan belajar kanji coba tonton video dibawah ini ya, siapa tau membantu kalian.
Kesimpulan
JLPT bukan cuma ujian hapalan. Ini ujian yang menguji apakah kalian bisa menggunakan bahasa Jepang, bukan cuma mengingat-ingatnya. Makanya persiapan yang seimbang antara kosakata, grammar, listening, yang merata itu penting. Selain itu mulailah sadar untuk mengelola waktu ketika ujian nanti agar bisa mendapat skor yang maksimal.
Kalau kalian pengen persiapan yang lebih terstruktur dan ingin belajar bahasa Jepang otodidak yang efektif ga buang-buang waktu, coba lirik program Akselerasi N4 = 15 Hari di J-Class. Info lengkapnya bisa cek di https://j-class.id/akselerasi-n4/. Gimana bahasan kali ini? Kalau ada pertanyaan atau mau sharing pengalaman ujian JLPT kalian silahkan tulis aja di kolom komentar ya. Kita diskusi bareng!