Cari

Belajar Efektif dan Fun di WaGoMu#JapaneseClass

  • Others

    Bocoran Soal JLPT : Fakta, Dampak, dan Apa yang Harus Kamu Lakukan

    Mulai muncul perusahaan Jepang yang udah ga percaya sama hasil JLPT. Ya umumnya sih yang di level N2 kebawah, ini dikarenakan ada isu-isu kebocoran soal dan kunci jawaban. Ini sih kata mereka, tapi apakah statement ini benar? Terus kalau benar apa efeknya ke kita? Aku mau coba bahas dikit soal isu ini, jadi ikutin sampai beres yuk.

    Pertama kita bahas dulu tentang tentang masalah JLPT terlebih dahulu. Apakah benar terjadi kecurangan dalam pelaksanaan test JLPT? Jawabannya IYA. Bahkan diantara orang Jepang udah jadi pembicaraan yang cukup luas. Kalau cari di google aja selama 2025 banyak artikel BLOG, ataupun cuitan SNS orang Jepang yang ngebahas tentang kecurangan ini. Contoh yang aku temukan, artikel dari nihongo kyoushi, artikel dari japan forward, artikel lalalausa, ada juga tweet atau X dari megane sensei, dan ada juga yang lainnya. Meskipun begitu, pihak JLPT berstatement bahwa tidak ada kebocoran soal dan kunci jawaban lewat artikel resminya ya mungkin untuk mempertegas bahwa bukan pihak JLPT ya yang membocorkan. Serta mereka juga memberi peringatan untuk memperketat penggunaan HP dan alat elektronik selama test sejak test Juli 2025 lewat artikel resminya juga. Penggunaan HP dan alat elektronik? Emang apa hubungannya? 

    Jadi kecurangan yang dimaksud dari tadi itu kecurangan yang seperti apa? Kejadiannya itu waktu test JLPT Desember 2024, dan kecurangan yang dimaksud itu memanfaatkan perbedaan zona waktu. Karena JLPT diadakan di hari yang sama secara global, dan negara yang zona waktunya lebih awal akan menyelesaikan ujiannya lebih duluan. Nah ternyata ada oknum di negara-negara tertentu memotret soal secara ilegal dan mengirimkannya ke grup telegram atau facebook ke negara yang ujiannya baru dimulai beberapa jam setelah mereka. Mereka pake gadget canggih seperti kamera tersembunyi berukuran mikroskopis yang disamarkan sebagai kacing baju atau kacamata untuk memotret lembar soal seacara langsung, dan menggunakan grup yang fast response di SNS. Jadi sebenernya kecurangan ini udah sangat terorganisir ya. Sampe sampe banyak sertifikat JLPT di periode desember 2024 itu dinyatakan tidak sah atau inconclusive.

    Rumor sih bilang kecurangannya dari China yang mengirimkan bocorannya ke Vietnam. Sayangnya saat ini aku belum nemu buktinya, jadi aku sih masih anggap lokasi kecurangan ini masih sebatas rumor aja ya. Apakah cuman dari China ke Vietnam aja atau ada juga ke negara lain? Ya masih belum begitu jelas sih. Bersyukurnya kejadian ini masih di luar Indonesia, dan sampe saat ini Indonesia belum ikut terseret sama isu ini.

    Terus apa efek dari kecurangan ini?

    Indonesia ga terseret secara langsung, tapi kita bisa kena efeknya juga loh. Yang paling berbahaya adalah kepercayaan sertifikat JLPT itu sendiri. Selama ini JLPT dianggap sebagai test kemampuan bahasa Jepang yang paling dipercaya di seluruh dunia. Meskipun sekarang masih belum hancur, tapi udah mulai ada perusahaan-perusahaan yang mempertanyakan sevalid apa sertifikat JLPT? Mulai skeptis saat melakukan rekruitment pegawai asing. Sampai ada dari mereka lebih percaya hasil interview daripada selembar sertifikat skill JLPT. 

    Kenyataannya saat ini pun masih banyak gap antara sertifikat dan kemampuan asli peserta, ya anggap aja kalian udah lulus N2 tapi ga lancar kaiwa (percakapan). Padahal ekspektasi orang Jepang kalau udah lulus N2 itu udah bisa memahami percakapan yang lebih kompleks, sehingga wajar dong kalau udah lancar kaiwa. Bukan hanya "hai, hai, wakarimashita" tapi ga ngerti apa-apa. Ini ga hanya berlaku untuk N2 ke atas, bisa jadi yang N3 kebawah pun bisa aja ikut dipertanyakan. Perusahaan mungkin akan mikir N2 aja gitu, apalagi yang baru N4? Bahaya ga sih kalau sampai kepercayaan perusahaan Jepang terhadap JLPT itu sendiri rusak? dan ini pasti berujung ke hancurnya kepercayaan user atau peserta JLPTnya juga.

    Efek lainnya mungkin udah mulai digarap sama pihak Japan Foundation ya. Yaitu perubahan dan perketatan aturan test JLPT. Selama ini yang aku rasain sih aturannya masih terasa nyaman, dan ga ribet gitu ya. Tapi kedepannya mungkin bakal ada aturan-aturan lain yang terkesan berlebihan tapi sebenernya make-sense kalau kita liat ada kasus kecurangan selama test JLPT ya. Buat aku dan kita-kita yang mengikuti test JLPT secara jujur pasti bakal ngerasa dihianati ga sih? Di saat kita berusaha belajar untuk dapetin skill yang sesuai levelnya, eh ternyata ada orang-orang curang hanya untuk dapetin sertifikat tanpa skill yang setara. Gara-gara itu kita yang jujur pun ikut kena imbasnya yaitu aturan yang makin ketat dan turunnya kepercayaan publik dan perusahaan terhadap sertifikat yang kita dapetin dari usaha kita selama ini. 

    Jadi kesimpulannya gimana kak? Bocoran soal itu NYATA dan memang ngeselin. Saat ini perusahaan Jepang sudah mulai waspada sama isu ini. Namun, jangan berkecil hati dan ga perlu terlalu dipikirkan dulu. Kita liat aja gimana pihak Japan Foundation memperbaiki ini, dan mencegah supaya kredibilitas JLPT ga jatuh. Untuk kita-kita yang ngejar buat berangkat TG bisa tetep kejar N4 atau pakai alternatifnya JFT basic A2 dulu juga oke. Kalian yang mau ngejar lebih tinggi juga ga usah ragu untuk ikut N3 atau N2 ya. Balik lagi ga perlu terlalu dipikirin dulu persoalan ini, masalah ini ga akan memanjang kalau real skill kita setara dengan sertifikat yang kita dapat kok. Jadi waktu interview kita ga akan dibilang bohong sertifikatnya karena punya skill komunikasi yang setara kan dengan sertifikatnya. Lagipula sertifikat tetap diperlukan untuk administrasi pengurusan visa, jadi mau ga mau kita masih tetep perlu sertifikat JLPT.

    Setelah denger cerita ini apa yang kalian pikirkan? Apakah ada yang ikut ragu sama JLPT dan mau ikut test yang lain gitu? Atau mungkin ada yang punya informasi lebih detail tentang kasus ini? Coba ceritakan di kolom komentar dong biar kita semua dapet informasinya.

  • Others

    Hal Yang Perlu Diketahui Mengenai Homestay in Japan

    Kalau kalian tanya senpai kalian soal akomodasi atau tempat tinggal ketika di Jepang. Mungkin kebanyakan dari mereka menjawab 'apartement' atau 'mansion' ya. Ga salah sih soalnya memang ini yang paling umum digunakan ketika longstay di Jepang. Tapi ternyata ada alternatif lain yang bisa kalian coba loh sebenenernya, dan alternatif yang aku bahas kali ini bisa jadi belum banyak yang tau. Jadi aku mau ambil kesempatan kali ini untuk sharing mengenai 'Homestay in Japan'.

    Aku mau mulai dari cerita pengalamanku dulu ya. Aku pernah nih tinggal long stay 1 tahun di Jepang dan waktu itu aku milih tinggal di apartemen bareng temenku dari Indonesia. Ke Jepangnya saat itu aku kerja, jadi otomatis hampir tiap hari ditempat kerja ketemuan sama orang Jepang, bahkan melayani orang Jepang juga. Memang ada kalanya aku sampai diajak makan-makan atau jalan-jalan juga sama temen kerja di sana. Tapi karena aku tiap harinya di apartemen sama orang Indonesia, jadi selama di Jepang aku malah jauh lebih sering gaulnya sama orang Indonesia lagi. Pada akhirnya aku jadi kurang tau sama budaya orang Jepang, dan kesulitan juga mendapatkan teman dan circle orang Jepang.

    Aku ga bilang gaul sama sesama orang Indonesia di Jepang itu hal yang salah. Tapi apa kalian ga ngerasa mubazir gitu? Jauh-jauh ke Jepang gaulnya hanya sama sesama orang Indonesia lagi? Apa ga ngerasa ingin akrab sama orang Jepang, dan nambah relasi atau circle pertemanan kalian? Selama di Jepang ga ingin gitu liat secara langsung dan kenal lebih jauh mengenai budaya orang Jepang? Karena gini ya. Gimana caranya kita kenal sama kebiasaan dan budaya sehari-hari mereka kalau kita ga masuk kedalam lingkungan dan circle mereka? Jangan sampai kalian tinggal bertahun-tahun di Jepang tapi waktu ditanyain "orang Jepang sehari-harinya ngapain?" atau "budaya di sana gimana?". Kalian malah ga bisa jawab karena ga perlah liat secara langsung, bahkan gaul sama orang Jepang aja ga pernah. Karena gini loh, kalau kalian tinggal di apartemen sendirian atau sama temen orang Indonesia lagi, ya kalian mungkin akan kesulitan untuk kenal budaya mereka apa lagi untuk masuk kedalam circle mereka. 

    So, aku mau coba sharing mengenai solusi untuk menyelesaikan masalah tadi. Kalian pernah ga denger program 'Homestay in Japan'? Program Homestay in Japan itu bayangin aja seakan-akan kalian tinggal bersama orang Jepang di rumah mereka, dengan kata lain kalian menginap dan tinggal satu atap di rumah orang Jepang. Ada juga yang bilang kita nitipin diri ke keluarga host di sana, jadi kita punya keluarga kedua yang jagain kita, dan bantuin kita kalau ada apa-apa selama tinggal di Jepang. 

    Bukan hanya menginap, kalian juga udah dapet makan selama program ini. Bayangin dulu aja kalian nanti dimasakin masakan rumahan Jepang sama hostnya, terus makan bareng mereka di satu meja sambil ngobrol hangat bagaikan keluarga. Kalau ada alergi atau makanan yang ga boleh dimakan, nanti bisa request jadi mereka akan siapin sesuai request kalian. Setidaknya program homestay itu include sama sarapan, tapi ada juga paket yang termasuk makan malam, dan juga makan siang. 

    Kalau urusan bahasa, memang ga semua hostnya bisa bahasa Inggris, tapi ga dikit yang bisa bahasa Inggris. Sekalipun kalian atau hostnya ga jago bahasa Inggris, bisa dong dibantuin aplikasi-aplikasi terjemahan, minimal sampe kalian jago dan lancar bahasa Jepangnya. Itung-itung sekalian membantu kalian untuk bisa lancar bahasa Jepang lebih cepet ya. Malahan aku pernah denger cerita dari peserta yang sekolah ke nihonggo gakko. Waktu dia ngerjain PR dan ada yang ga ngerti, dia dibantuin atau dikasih tau sama host homestaynya. Kalau kalian tinggal sama temen orang Indonesia lagi, ujung-ujungnya kalian sehari-hari di apartemen ngobrolnya pake bahasa Indonesia kan? Kalau gitu kapan mau lancar bahasa Jepangnya?

    Di bulan Juli 2025 jumlah host keluarganya ada 9000 keluarga lebih yang tersebar di seluruh Jepang. Host yang akan nerima kalian udah diseleksi juga sama pihak homestay in Japannya. Jadi hostnya itu orang Jepang yang memang punya ketertarikan, ingin tau dunia luar, dan ingin akrab sama orang luar Jepang. Jadi pasti aman dari hal negatif seperti perlakuan rasisme, atau dapet perlakuan kasar dari host homestaynya itu pasti ga ada ya. Itupun selama kalian ga macem macem seperti mengganggu atau melakukan yang membuat mereka marah ya. 

    Karena hostnya udah tersebar, jadi nanti kalau udah daftar kalian akan dicarikan host yang lokasi rumahnya deket dengan tujuan kalian ke Jepang. Contoh kalau kalian ingin sekolah bahasa Jepang, nanti kalian akan dicarikan yang deket dengan sekolahnya. Jadi kalian ga akan makan waktu lama untuk pulang pergi ke sekolahnya. 

    Aku pribadi nyaranin banget kalian homestay, terutama untuk kalian-kalian yang :

    1. Ingin tau dan ngerasain budaya kehidupan sehari-hari orang Jepang. Kalian bisa hidup sendiri atau bareng temen Indonesia di apartemen, mansion atau hotel, tapi nanti kalian ga akan tau gimana budaya keseharian orang Jepang di rumahnya.

    2. Ingin punya circle baru khususnya circle pertemanan hingga circle keluarga dengan orang Jepang. Ini yang ga banyak orang Indonesia punya selama di Jepang. Sekali kita masuk ke circle keluarganya, akan lebih mudah masuk ke hubungan personal yang didasari saling percaya satu sama lain, bakal beda deh sama circle keluarga di Indonesia.

    3. Rencana longstay hidup sendiri, tapi ini pertama kalinya kalian datang ke Jepang. Khawatir ga tuh gimana nanti hidup di Jepangnya gimana? Aku saranin banget buat homestay dulu aja beberapa hari atau 1 minggu pertama ketika datang ke Jepang. Selama homestay bisa sambil belajar dari melihat kehidupan sehari-hari orang Jepang. Malah sambil tanya-tanya aja ke hostnya tentang hidup di Jepang atau di daerahnya. Jadi nanti waktu hidup sendiri di apartemen, kalian udah tau apa yang harus kalian lakukan dan apa yang ga boleh kalian lakukan.

    4. Ingin liburan dengan biaya akomodasi yang lebih murah daripada hotel. Homestay secara biaya lebih murah dari hotel, ditambah lagi kalian akan dapet VALUE yang lebih tinggi dari sekedar tempat menginap/tinggal. Jadi manfaatin libur sekolah atau libur kerja kalian buat sesuatu yang lebih berbermanfaat dari sekedar liburan main. Sekalian liburan kalian bisa dapet ilmu dan pengalaman hidup bareng orang Jepang.

    Seriusan guys ternyata masih banyak orang Indonesia yang gatau di Jepang itu ada program homestay. Aku kurang tau kebanyakan dari negara mana yang udah ikut homestay. Tapi kalau aku tanya temen-temen Indonesia aku ternyata mereka belum pada tau ada homestay di Jepang. Yang tertarik dan ingin ikut dan mencoba homestay in Japan bisa coba check halaman ini untuk informasi lebih lanjut. Gimana guys bahasan kali ini? Apakah kalian tertarik untuk homestay di Jepang? Atau kalian mungkin masih ngerasa lebih baik tinggal di apartemen sama temen Indonesia kalian? Coba tulis di komentar ya guys, aku mau denger pendapat kalian.

  • Others

    Kalian PERLU Tau Hal Penting Dari Pertemanan Orang Jepang

    Kalian mungkin udah ga asing dengan cerita gini. "Orang Jepang mah ga peduli sama orang sekitarnya kak", "Orang Jepang suka bertopeng 2 kak, waktu ngobrol sering keliatan asik, padahal dia ga ngerasa asik", dan semacamnya. Pasti diantara kalian ada yang udah pernah denger atau bahkan ngerasain apa yang tadi aku mention. Secara garis besar memang cara deket dengan orang Jepang itu beda dengan kalau kalian ingin deket dengan orang Indonesia. So aku mau coba bahas dikit mengenai pengalamanku berteman dengan orang Jepang. 

    DISCLAIMER: Cerita aku ini berbasis pengalaman aku jadi pengalaman kalian bisa jadi akan berbeda ya. Jadi coba pelajari dan ambil bagian pentingnya dan sesuaikan dengan kondisi kalian.

    Pertemanan orang Jepang memang agak unik kalau dibandingkan sama pertemanan di Indonesia ataupun negara-negara lainnya. Semua gara-gara budaya orang Jepang yang membuat mereka cenderung menggunakan komunikasi tidak langsung kepada orang lain. Selain itu dari yang aku rasain, sepertinya ekspektasi pertemanan orang Jepang pun sedikit berbeda sama orang Indonesia. Makanya ga dikit orang Indonesia yang ga tau hal penting ini, sehingga mereka agak kesulitan untuk mendapatkan teman di Jepang. 

    Jangan sampe dah jauh-jauh ke Jepang ujung-ujungnya bertemannya sama orang Indonesia lagi. Mumpung lagi di Jepang kenapa ga berteman sama orang lokalnya?

    Untuk mempermudah berteman sama orang Jepang aku saranin kenal dulu sama budaya mereka. Pertama seperti yang aku sebutin tadi, mereka cenderung pake cara komunikasi tidak langsung. Baik lewat isyarat, atau bahasa tubuh, atau juga kata-kata yang mereka gunakan itu tidak langsung nunjukin isi hati mereka. Pada dasarnya mereka jarang mengatakan "tidak" atau menolak secara blak-blakan, kaya kalau di ajak jalan-jalan mungkin mereka akan merespon seakan-akan mereka terkesan tertarik dan ingin ikut. Tapi apakah isi hatinya beneran ingin ikut? Belum tentu ya.

    Pada dasarnya mereka cuman ga suka konfrontasi atau pertentangan secara langsung. Bayangin kalau di Indonesia, temen kalian ngajak main terus kalian nolak ajakannya. Kayanya kebanyakan orang Indonesia malah marah, atau minimal ngejek "ga asik lu" dan semacamnya ya. Biar ga kaya gitu, makanya orang Jepang selalu menjawab dengan jawaban yang kira-kira aman supaya engga diejek "ga asik", tapi ga ngasih kesan dia mau jaga jarak atau menjauh dari kamu. Ini cara mereka supaya hubungan pertemanan tetap harmonis. Yang barusan aku jelasin di Jepang biasanya disebut "Hon-ne" dan "Tatemae".

    Nah mungkin kalian udah ga asing sama kosakata Hon-ne dan Tatemae ya? Singkat kata Hon-ne itu "perasaan atau niat yang sebenernya", sedangkan Tatemae itu "perilaku atau pendapat yang dikeluarkan atau ditampilkan ke orang lain atau umum". Nah udah jadi budaya di Jepang bahwa kita harus menutup Hon-ne kita dan gunakan Tatemae untuk menjaga keharmonisan sosial. Kenapa, karena mereka ngerasa ga semua hal perlu diceritakan. Ada banyak hal yang sebaiknya tak diucap untuk menjaga hubungan sosial. Jadi sebenernya budaya ini punya tujuan yang bagus loh, tapi bagi orang Indonesia yang lebih banyak blak-blakannya saat bicara sama temen ya bisa jadi ga cocok ya sama budaya ini. 

    Berarti kita harus peka-pekaan dong kak ketika berteman atau PDKT sama orang Jepang? Jawabannya IYA. Tapi tenang ya, dengan seiring berjalannya pertemanan sama orang Jepang kalian akan otomatis tau pattern atau pola pikir orang Jepang. Jadi perlahan kalian akan bisa bedain mana Hon-ne dan mana Tatemae. Pelajari juga kuuki o yomu atau "baca suasana". Orang Jepang ga suka suasana lagi asik-asiknya terus di ancurin sama seseorang. Contoh waktu lagi pesta sama temen-teman tiba-tiba kalian ngomong "eh besok ada PR kan ya?", terus satu ruangan yang lagi pesta tiba-tiba keinget belum ngerjain PR.

    Perlu diketahui, ekspektasi pertemanan di Jepang itu ga selalu penuh dengan interaksi. Kalau di Indonesia biasanya temen yang udah kisaran bulanan ga ketemu aja kaya udah asing ya? Ya ga asing banget sih, tapi kaya pertemanan kalian memudar kalau jarang ketemuan dan ngelakuin sesuatu bareng-bareng. Nah di Jepang, pertemanan itu bukan masalah sesering apa ketemuan atau berinteraksi. Meskipun jarang ketemuan, tapi kalau udah dapet kepercayaan dan memang udah dianggap temen deket, apalagi sampai dianggap keluarga sama mereka, pertemanan kalian ga akan mudah pudar meskipun kalian ketemuannya setaun sekali.

    Nah saran aku sih kalau mau gampang temenan sama orang Jepang, hal paling gampang yang harus kalian lakukan adalah berada di dalam circle yang sama dengan mereka. Contoh kalau kalian suka mancing, ya gabunglah sama circle yang suka mancing. Kenapa? Dengan berada di circle hobi yang sama kalian udah punya jembatan komunikasi, dan aktifitas yang disukai bersama. Kalian ga akan susah buat buat dapet topik pembicaraan, karena udah tau sama-sama suka mancing. Sisanya tinggal perlahan dan bertahap untuk saling mengenal dan saling percaya. Jelas ini semua akan sulit dilakukan kalau skill bahasa Jepang kalian masih pas-pasan. Bayangin kalian yang masih N4 atau bahkan N5, kalian bisa ga ceritain hobi kalian lebih detail? Bisa ga memperluas topik pembicaraan dengan skill bahasa Jepang yang segitu-gitu aja? Orang Jepang juga bakal ngerasa enggan ya deketan sama orang yang punya dinding bahasa, jadi naikin terus skill bahasa Jepangnya ya.

    Perbedaan budaya pun sering jadi dinding yang cukup tebal untuk bisa berteman sama orang Jepang. Makanya coba kenalin lagi lebih dalam tentang budaya dan kebiasaan orang Jepang. Itupun akan membantu kalian memahami kebiasaan mereka. Kenali budaya dan kebiasaan sehari-hari orang Jepang seperti apa. Kalau ingin tau dan liat langsung budaya sehari-hari mereka, kalian bisa cobain homestay ya. Cobain homestay terus liat dan rasain langsung budaya mereka. Kalau penasaran bisa check halaman ini ya.

    Gimana guys pembahasan kali ini? Sekali lagi ini berdasarkan pengalaman aku ya, tapi harusnya pengalaman kalian pun ga beda jauh sama yang aku alamin. So, yang udah punya temen orang Jepang, atau mungkin yang udah sampe nikah sama orang Jepang coba sharing juga dong pengalaman kalian. Aku mau tau pengalaman kalian gimana.

  • Others

    Homestay in Japan? Nih Alternatif Buat Tinggal di Jepang

    Kerja, kuliah, belajar bahasa Jepang, traveling, dan lainnya. Ada banyak tujuan untuk bisa ke Jepang ya. Tinggal pilih lah, ke Jepang untuk ngapain. Begitu pula pilihan tempat tinggal selama di Jepang. Kalau nyari di internet pasti banyak yang bilang tinggal di apartemen atau di mansion, kalau jangka pendek pasti banyak yang nyaranin ke hotel aja. Tapi tau ga ada alternatif lain loh, so kali ini aku mau coba bahas tentang alternatif untuk tinggal di Jepang.

    Sebelum berangkat ke Jepang, 1 hal yang perlu diperhatikan adalah nanti tinggal dimana? Nah kalau nanya ke senpai kalian, jawabannya ga akan jauh, selain yang aku sebutin tadi mungkin ada juga yang jawab di warnet malem, atau di karaoke? Ga salah sih, kalian bisa aja loh tinggal di warnet atau karaoke paket malem. Secara biaya banyak juga masih lebih murah daripada di hotel. Tapi yang kalian dapet bisa jadi ga seberapa kalau dibanding di hotel ya. Jadi untuk jangka pendek ini jadi salah satu pilihan.

    Tapi tau ga ada 1 alternatif lain yang mungkin baru sedikit yang tau. Yaitu Homestay in Japan. Sesuai namanya kita homestay di rumah orang Jepang, atau kalau aku sih sebutnya kita menitipkan diri kita ke tuan rumah atau keluarga di sana. Jadi kita nginep di rumah keluarga di Jepang dan hidup bersama mereka. Belum kebayang? Nih gambaran singkatnya, kita bisa liat keseharian mereka lebih dekat, berinteraksi dengan mereka lebih mudah, dan diperlakukan seperti keluarga sendiri. Jadi seakan-akan kalian punya keluarga ke 2 selama tinggal di Jepang. Homestay mungkin udah terbilang umum di negara-negara barat. Namun untuk di Jepang ternyata belum begitu dikenal oleh orang Indonesia.  

    Tapi apa sih memang yang didapatkan selama homestay? Ini berdasarkan pengalaman aku yah, ada beberapa point yang aku mau coba highlight. Pertama yang paling penting adalah pengalaman hidup 1 atap bersama keluarga Jepang. Kalian ga akan dapetin pengalaman ini kalau kalian milih untuk tinggal di apartemen, mansion, atau akomodasi yang lainnya, kecuali kalian punya kerabat, atau sahabat orang Jepang kemudian kalian tinggal di rumah kerabat kalian. Dengan pengalaman ini kalian bisa liat budaya keluarga di sana secara langsung dan detil. Aku pernah tinggal di Jepang 1 tahun di apartemen bareng temen aku. Dan selama 1 tahun aku ga begitu kenal seperti apa sih orang Jepang, keseharian mereka seperti apa, sampe budaya yang ga terlihat di internet pun aku kurang tau tuh. Nah waktu nyobain homestay baru tau ternyata banyak budaya orang Jepang yang ga terekspose selama ini. Singkat kata aku dapet kesempatan untuk mengenal orang Jepang lebih dalam lagi. FIY, aku baru tau juga ternyata kalau kalian ada PR dari sekolah dan kalian minta bantuan ke tuan rumah buat nanya-nanya soal PRnya juga bisa loh hehe.

    Nah yang kedua, udah ga perlu mikirin makan dan keamanan selama disana. Homestay ada 2 pilihan paket, ada yang include sarapan dan makan malam, atau paket yang include sarapan aja. Makan siang juga bisa kok ditambahin di paket optional. Jadi kalian nanti bakal disiapkan dan makan bareng keluarga disana, sambil makan bareng bisa sambil ngobrol, sambil PDKTan gitu, dan kalau ada apa-apa selama tinggal di Jepang pun keluarga host pasti bakal bantuin, kalau sakit bakal dirawat, jadi kalian ga perlu khawatir selama tinggal di Jepang. Seperti yang tadi aku sebutin, kalian akan diperlakukan sebagai keluarga juga disana. Jadi beneran ngerasain punya keluarga kedua di Jepang. Selain itu udah termasuk juga fasilitas seperti AC, listrik, air, gas, dan alat-alat hidup atau perabotan lainnya. Jadi udah ga pusing kan.

    Ketiga adalah fleksibilitas. Tuan rumah yang terdaftar ada tersebar luas di seluruh daerah Jepang. Sehingga kalian ga perlu khawatir ga ada host yang mau nerima untuk kalian homestay. Kalau tujuan ke Jepangnya sekolah, nanti bakal dicariin yang deket sama sekolahnya. Kalian bisa juga request tuan rumah seperti apa yang diinginkan. Contoh saya muslim jadi ga bisa makan daging babi dan minum sake. Nanti kalian akan disiapkan makanannya yang ga mengandung itu. Ga ingin ada anak kecil atau binatang di rumah hostnya, ingin host yang bisa bahasa Inggris, dll. Nanti dicarikan juga yang sesuai kriteria kalian. Kalau belum lancar bahasa Jepang pun kalian berkomunikasi pake kamus atau aplikasi terjemahan juga bisa ya, mereka welcome banget kok sama orang asing.

    Keempat ini sesuatu yang berhubungan dengan masalah selama homestay, semoga ga ada masalah sih ya, tapi aku garis besarkan support dari Homestay in Japannya. Selain fleksibilitas tadi, kalau kalian diperlakukan tidak baik atau ngerasa tidak cocok dengan tuan rumah, tim Homestay in Japan siap bantuin kalian untuk mencarikan tuan rumah yang baru. Jelas harus ada alasan yang kuat ya untuk bisa ganti tuan rumah. Tapi kalian ga akan dilantarkan begitu aja kok selama berjalannya homestay. 

    Nah udah lebih kenal kan sama homestay in Japan seperti apa? Secara garis besar aku simpulin, dengan homestay di Jepang bisa dapet kesempatan untuk gabung jadi keluarga orang Jepang dan bisa liat budaya dan kebiasaan mereka yang lebih dalam lagi. Ga longstay pun menurut aku sih sekali sekali mah bagus untuk nyobain homestay. Setidaknya untuk memperluas koneksi dan pengetahuan sih ya. Kaya yang tadi aku ceritakan, setaun tinggal di Jepang tapi masih kurang kenal orang Jepang tuh orang-orang yang seperti apa, itu kan sedih banget ya, jadi setaun ngapain aja? Gaulnya sama orang Indonesia lagi jadi kurang kenal sama warga lokalnya. Aku yakin juga sih yang tinggal berdua atau di asrama yang banyakan, nanti di sana pasti gaulnya sama sesama orang Indonesia. Bagus sih kalau di asrama gaulnya sama orang asing dari negara lain. Jadi bisa dapet koneksi international bahkan bisa dapet skill bahasa Inggris juga kali hehe.

    Untuk lebih detilnya bisa lirik website atau instagram mereka nih guys. Tapi menurut kalian gimana ya? Apa menurut kalian homestay in Japan ini menarik kah? Kalian ingin ikut homestay atau mending hidup sendiri di apartement atau sebagainya? Coba ceritain di komentar ya guys aku ingin denger pendapat kalian.

  • Others

    Masalah Jepang yang besar tapi dianggap kecil oleh sebagian orang

    Kali ini mau ngomongin Jepang lagi nih. Dengan teknologi, etos kerja, bahkan inovasi-inovasi mereka, Jepang berhasil berkembang menjadi negara maju, dan menjaga ekonomi negara mereka. Negara yang memiliki teknologi yang cangih ini pun, tetap menjaga budaya dan tradisi mereka. Keindahan pemandangan alam dan perkotaannya, tarian kabuki, hingga permainan-permainan tradisional pun diwarisi dengan baik oleh warga Jepang. Kalau denger sampe sini aja, pasti orang akan ngerasa Jepang pasti negara yang sangat menarik, sehingga semua orang ingin tinggal di negara tersebut. Tapi ternyata Jepang memiliki berbagai masalah yang terjadi sudah cukup lama tapi tidak terlalu terekspose, atau bisa aku bilang masih banyak orang yang melihat masalah ini sebagai masalah kecil. 


    Pertama, yang udah sering aku bahas yaitu penurunan angka kelahiran, tapi populasi semakin tua. Sekarang penduduk Jepang udah banyak yang aware terhadap masalah ini, tapi ternyata sebagian besar dari mereka masih tidak begitu peduli. Aku sampai buat conten juga kan tentang prediksi tahun 2040 orang jepang akan punah. Waktu itu aku pernah bahas juga, bahwa masalah ini udah terjadi semenjak awal tahun 2000an, tapi penduduk Jepang memang tidak aware sama ini dan menganggap ini hanyalah masalah kecil yang seseorang pasti akan mengatasinya. Alhasil sampai taun 2024, angka kelahiran di Jepang tidak kunjung menaik malah yang ada menurun terus. Disaat angka kelahiran menurun, angka jumlah lansia terus meningkat. Hingga saat ini berada di tahap pemerintah Jepang membuka lebar pintu masuk warga asing yang ingin bekerja di Jepang. Ya ini jadi kesempatan yang bagus sih bagi kita-kita yang ingin kerja di Jepang.

    Tapi masalah populasi ini udah terlihat dari dulu tapi tidak kunjung dapat solusi yang membuat penduduk ingin punya anak. Nah kalau kita coba gali lebih dalam, sebenernya masalahnya tidak hanya disitu. Di konten sebelumnya aku sempat share juga hasil penelitian di akhir taun 2024. Singkat kata, penduduk tidak ingin menikah dan merasa lebih cocok hidup sendiri, ingin fokus berkarir, ingin prioritasin diri sendiri, dll. Pemikiran seperti ini lah yang menyembabkan masalah populasi di Jepang menurun terus. Sebagian memang tidak memiliki anak karena khawatir terhadap masa depan anaknya, karena mereka tidak percaya diri bisa mendidik anak, atau khawatir dengan kondisi ekonomi mereka sendiri. Ini masih jadi PR pemerintah Jepang untuk mengatasi bagaimana cara supaya warga tidak khawatir untuk punya anak. Hingga saat ini masalah ini masih belum mendapat solusi yang baik bagi pemerintah dan juga masyarakat Jepang.


    Kedua adalah Hikiromori. Jangankan penduduk Jepang, aku yakin kita warga asing pasti mikirnya Hikikomori adalah sebuah masalah yang kecil, masalah sepele gitu kan? Singkat kata, Hikikomori itu adalah kegiatan mengisolasi diri dari kehidupan sosial. Jadi dia mengurung diri di kamar sambil nonton, main game, di ajak ngobrol malah diem, ya beneran mengisolasi diri lah dari orang lain. Terlihan sepele kalau cuman aku jelasin seperti itu. Tapi tau ga berapa banyak warga Jepang yang Hikikomori? Saat ini tidak ada angka yang jelas, namun laporan terbaru dari pemerintah Jepang itu ada sekitar 1,5 juta penduduk yang Hikikomori, dan sebagian besarnya itu di umur produktif. Jumlah ini yang berdasarkan laporan aja, sehingga bisa jadi belum semua terhitung. Belum lagi jumlah ini terus meningkat setiap tahunnya.

    1,5 juta penduduk loh yang memilih untuk diem di kamar mereka. Bayangin kalau 1,5 juta penduduk tadi itu dia bekerja, dan produktif. Punahnya penduduk Jepang bukan di 2040 tapi bakal mundur kayanya. Bandara Haneda ga akan bikin statement kekurangan tenaga kerja, Jepang ga perlu ngebuka pintu lebar-lebar untuk tenaga kerja asing, ekonomi Jepang bisa lebih stabil malah bisa lebih baik. Absennya 1,5 juta penduduk ini efeknya selain kekurangan tenaga kerja, tapi bisa sampai memperlambat ekonomi Jepang. 

    Selain itu ga dikit juga loh, orang yang hikikomori itu udah masuk umur 40 ke atas, dan mereka masih hidup dibiayai orang tuanya yang udah berumur 60 ke atas. Ya, dia ngurung diri di kamar ga kerja ya, jadi mereka ga bisa ngasilin uang, jadi ujung-ujungnya masih mengandalkan dompet orang tuanya. Kalau udah gini yang pusing siapa coba? Ya orang tuanya ya. Meskipun yang paling dihawatirkan adalah kalau orang tuanya udah ga ada, terus itu yang hikikomori gimana nasibnya?


    Hikikomori tidak akan mucul begitu aja. Ada faktor eksternal yang membuat mereka memilih untuk mengasingkan diri. Sebagian besar itu karena tekanan berlebih. Beberapa contoh yang bisa aku angkat seperti pembulian di sekolah, tekanan pendidikan yang tinggi, atau tingkat stress tinggi di pekerjaan. Tekanan pendidikan disana ga main-main ya, contoh orang pada mikir seperti "ingin sukses harus masuk universitas unggul", nah biaya masuk universitas unggul itu mahalnya amit-amit, belum lagi universtias unggul bakal ngasih tekanan akademis yang lebih besar juga ke mahasiswa/i nya. Nah ga dikit orang yang ga kuat dengan tekanan itu sehingga memilih untuk hikikomori, sehingga angka hikikomori terus meningkat. Belum lagi kalau selama sekolah mereka dibuli, sama temen-temennya, nah double tuh tekanannya. Kemudian setelah lulus, mereka dapet kerjaan dengan tekanan yang tinggi. Ga cape tuh jadi orang Jepang?

    Seperti yang di awal aku sebutkan, Jepang itu negara maju dengan teknologi, etos kerja, dan inovasi yang bagus. Tapi ternyata Jepang saat ini mengalami kemunduran yang cepat atau lambat kalau ga ditangani bakal menghancurkan negara Jepang itu sendiri. Aku baru sebutin 2 di antaranya, tapi aku rasa masih ada masalah lain yang bisa merusak masa depan Jepang. Nah menurut kalian gimana ya? Kalau penduduk Jepang aware sama masalah tadi apakah bisa mengatasi masalah ini? Dan apakah kalian punya bayangan solusi yang bisa menyelamatkan Jepang dari kepunahan dan keterpurukan ini? Coba tuliskan pendapat kalian ya, aku mau denger pendapat kalian.

  • Others

    Fakta Unik Ramadan di Jepang

    Bulan Ramadhan di Jepang punya tantangan dan keunikan sendiri buat Muslim yang tinggal di sana. Karena emang bukan negara mayoritas Muslim, suasana Ramadhan di sana nggak semeriah di negara-negara Islam lain. Tapi justru itu yang bikin pengalaman Ramadhan di Jepang jadi spesial dan berkesan. 


    Pemahaman Orang Jepang tentang Puasa

     Orang Jepang sebenarnya nggak asing sama konsep puasa. Mereka punya istilah danjiki, yang biasanya dipakai buat latihan spiritual para biksu Buddha dengan cara nggak makan dan minum.

    Nah, pas mereka tahu kalau Muslim juga puasa selama Ramadhan, banyak yang penasaran. Nggak jarang ada yang nanya, "Emang kuat kerja sambil puasa?" atau "Boleh nggak sih kalau kita makan di depan orang yang lagi puasa?"

    Tapi setelah dijelasin kalau puasa itu bukan cuma soal nahan lapar dan haus, tapi juga melatih kesabaran dan kedekatan sama Tuhan, mereka biasanya langsung paham dan malah jadi lebih menghargai. Ada juga yang jadi ikutan coba puasa buat ngerasain gimana rasanya.

    Durasi Puasa di Jepang

     Ramadhan tahun ini di Jepang datang pas transisi dari musim dingin ke musim semi, jadi durasi puasanya sekitar 13–14 jam per hari. Awal-awal Ramadhan masih agak pendek, sekitar 13 jam, tapi makin mendekati akhir bulan, siang makin panjang, jadi puasanya bisa sampai 14 jam. Di awal Ramadhan, udara masih dingin menusuk, tapi makin lama, hawa musim semi mulai kerasa, bunga sakura mulai bermekaran, dan suhu jadi lebih hangat. Jadi, selain menahan lapar dan haus, puasa kali ini juga bakalan jadi perjalanan menyesuaikan diri dengan perubahan musim.

    Ketersediaan Makanan Halal

     Soal makanan, pilihan halal di Jepang emang nggak sebanyak di Indonesia. Makanya, banyak Muslim di sana yang lebih pilih masak sendiri. Tapi kalau tinggal di kota besar kayak Tokyo atau Osaka, masih ada beberapa restoran dan toko yang jual bahan makanan halal. Selain itu, komunitas Muslim dan masjid juga sering ngadain buka puasa bareng, yang jadi ajang seru buat ketemu orang baru dan ngerasain kebersamaan. Buat yang jauh dari keluarga, buka puasa rame-rame ini jadi momen spesial biar tetap terasa hangat, meskipun jauh dari kampung halaman.

    Kegiatan Ramadhan Komunitas Muslim Jepang

     Kadang, komunitas Muslim di Jepang juga ngadain bazar Ramadhan, yang jualan makanan khas dari berbagai negara. Seru banget, soalnya bisa cobain macam-macam hidangan dari budaya Muslim lain, sambil sekalian kumpul dan ngobrol bareng komunitas Muslim di sana.

    Salat Tarawih tetap berjalan walaupun masjid di Jepang nggak banyak. Biasanya, Muslim di sana kumpul di masjid atau mushola kecil buat salat bareng. Di Tokyo, Masjid Tokyo Camii jadi tempat favorit buat yang mau buka puasa bareng, Tarawih, sampai ikut kajian. Walaupun kadang harus jalan jauh buat ke masjid, banyak yang tetap semangat karena bisa ngerasain kebersamaan dan makin dekat sama sesama Muslim.

    Ramadhan di Jepang emang nggak serame di Indonesia yang penuh suara azan dan penjual takjil di mana-mana, tapi tetap ada kehangatannya sendiri. Justru karena serba terbatas, komunitas Muslim di sana jadi makin kompak dan lebih ngerasain makna Ramadhan yang sebenarnya. Malah, buat sebagian orang, pengalaman ini bikin mereka lebih sadar dan lebih menghargai momen-momen kecil yang dulu mungkin dianggap biasa aja.

  • Others

    2040 Orang Jepang Punah!? Kok Bisa?

    Ketemu lagi di WaGoMu Japanese Class. Nah udah ga asing mungkin buat kalian ya. Tapi aku sempet baca berita ada yang bilang 2040 orang Jepang akan punah. Jujur ini real atau cuman sebatas propaganda aku sendiri kurang tau ya. Soalnya ada yang bilang juga bahwa ini hanya sekedar propaganda. Tapi kok bisa muncul statement gitu? Hmmm yuk kita coba bahas.

    Ya, 2040 orang Jepang akan punah. Aku sih agak ketawa pas pertama baca. Tapi sebenernya cukup memungkinkan ya kalau kita liat kondisi di Jepang saat ini. Negara Jepang yang dikenal negara dengan teknologi canggih, makanan enak, budaya yang bagus, dan wisata yang indah pun akhirnya mengalami krisis populasi. Krisisnya berbanding kebalik dengan Indonesia ya dimana di Indonesia warga makin banyak tidak seimbang dengan jumlah lapang pekerjaan yang layak. Nah di Jepang itu kekurangan tenaga kerjanya sehingga lapangan kerja makin banyak yang kosong.

    Masalah di Jepang ini disebut dengan 少子高齢化 (shoushi koureika), ya singkat kata peningkatan jumlah lansia tidak sebanding dengan angka kelahiran. Jadi pemuda di Jepang makin berkurang, tapi jumlah lansianya makin bertambah tiap taunnya. Masalah ini sebenernya udah lama banget ya diliat sama pemerintah Jepang. Setau aku dari awal 2000an aja udah ada tuh berita tentang penurunan populasi di Jepang. Aku sempet check juga tahun 2005 adalah pertama kalinya penyusutan angka kelahiran di Jepang yang sangat menghawatirkan, sampe disebut-sebut penurunan kelahiran tertinggi setelah Perang Dunia II. Belum beres di situ, penurunan angka kelahiran terus meningkat hingga saat ini (awal 2025). 

    Panik dong pemerintahnya, jadi mereka udah bikin berbagai macam kebijakan untuk mencegah masalah ini dengan insentif finansial untuk keluarga yang memiliki anak, dukungan untuk pekerja perempuan, dan program imigrasi terbatas. Tapi ternyata hasilnya masih belum begitu keliatan. Disitulah awal mula diperkirakannya orang Jepang akan punah di tahun 2040.

    So aku sih ga mau ya berfikir sejauh itu, tapi ngeliat kondisi saat ini mungkin banget loh orang Jepang bakal punah. Apa lagi sekarang banyak orang Jepang juga yang lebih memilih 未婚者 (mikonsha) yaitu belum menikah atau hidup tanpa menikah. Anak muda sekarang jangankan punya anak, ternyata nikah aja mereka udah merasa enggan atau lebih tepatnya mereka menunda pernikahan mereka. Ada penelitian di September 2024 kemarin, alasan orang Jepang enggan atau tidak tertarik menikah ada macam-macam, nah 3 terbesarnya yaitu merasa hidup sendiri lebih cocok, ga tau untungnya nikah, dan ingin prioritasin diri sendiri. Detil penelitiannya bisa check di link ini ya.

    Efek penurunan kelahiran di Jepang sudah mulai kerasa. Seperti Jepang sudah mulai besar-besaran menerima tenaga kerja dari luar Jepang, kekurangan murid jadi sekolah-sekolah banyak yang mulai tutup, hingga pedesaan banyak yang mulai kosong karena banyak yang pindah ke kota biar dapet pekerjaan yang lebih layak. Bagi orang asing yang punya cita-cita kerja di Jepang sih ini terdengar berita yang bagus, tapi agak miris ga sih dengernya? Sekarang di Indonesia peningkatan populasinya tinggi, tapi aku curiganya kedepannya angka kelahiran akan mulai menurun di Indonesia. Nah kalau udah seperti itu apa ya yang kita lakukan? Apa kita bisa ngelakuin hal yang sama seperti di Jepang? Atau kita punya cara lain buat ngebenerin masalah populasi ini? Hmmm.

    Itu urusan pemerintah sih, tapi untuk sekarang buat kalian yang berniat kerja di Jepang kalian mungkin bisa membantu menyelesaikan masalah ini. Meskipun kalian tetap jadi warga negara Indonesia, kalian bisa membantu masalah tenaga kerja di Jepang. Apalagi kalau kalian dapet jodoh orang Jepang terus ngebangun keluarga di sana. Kalian bisa bantuin juga masalah populasi di Jepang. So silahkan menikah sama orang Jepang! Hehe. 

    Tetep semangat buat yang belajar bahasa Jepang untuk kerja di Jepang ya, pintu ke Jepang masih terbuka lebar. Untuk masalah ini kita warga Indonesia bisa bantuin kok, dengan berangkatnya warga Indonesia buat kerja di Jepang kita udah bantuin Jepang menyelesaikan salah satu masalah besar di sana. Dan yang udah di Jepang, balik lagi aku nitip jaga juga reputasi Indonesia di sana, biar kouhai kalian bisa berangkat nyusul kalian tanpa masalah.

    Tapi menurut kalian gimana nih? Apa kalian punya pendapat lain mengenai prediksi punahnya orang Jepang di tahun 2040? Aku mau denger pendapat kalian, so coba tulis di komentar ya!

  • Others

    Kenapa Orang Jepang ingin tinggal di Indonesia?

    Orang-orang Indonesia berlomba untuk pergi tinggal di Jepang. Kalian bisa jadi salah satunya. Banyak yang nyari loker buat kerja di Jepang supaya pada bisa longstay di Jepang. Bahkan ada yang berusaha nyari jodoh orang Jepang supaya bisa tinggal di Jepang selamanya. Atau ada juga yang mungkin udah cape tinggal di Indonesia, dan sebagainya. Berbagai macam alasan orang Indonesia ingin kerja di Jepang. Tapi tau ga, ternyata ga dikit loh orang Jepang yang sebenernya lebih seneng tinggal di Indonesia daripada di Jepang. So, yuk kita coba bahas dikit mengenai ini.

    Serius loh, ga banyak sih kenalan orang Jepang aku tapi setidaknya banyak dari mereka bilang lebih ingin tinggal di Indonesia daripada di Jepang. Ternyata bagus ya reputasi Indonesia itu sendiri di mata Jepang. Cuman mungkin belum sebanyak itu orang Jepang yang tau dan pernah tinggal di Indonesia. Sehingga banyak juga yang kurang tau mengenai Indonesia. Tapi mereka yang kenal dan udah pernah long stay di Indonesia, ada aja yang bilang lebih enak tinggal di Indonesia. Banyak juga yang cerita mereka suka sama Indonesia.

    Kalau kalian cari konten di Youtube, tiktok, atau mungkin Instagram mungkin pernah juga nonton pendapat mereka. Nah aku mau coba tambahin pendapat temen-temen aku nih. Ternyata bagi orang Jepang tinggal di Indonesia itu lebih nyaman. Rata-rata bilang orang Indonesia itu ramah, dan kesannya nyantai gitu ga kaya di Jepang yang mungkin mereka ngerasa ada tekanan gitu di kehidupan sosial mereka. Jadi mereka yang cenderung individualis ngerasa lebih mudah berinteraksi karena keramahan orang Indonesia. Ya kalau kalian tau juga ya di Jepang itu disiplin banget, hubungan atas bawahnya terbilang jelas banget, kesannya terburu-buru atau tegang gitu hidup di Jepang. Nah orang Jepang seneng dengan nuansa nyantainya Indonesia. Udah cape mungkin mereka ya.

    Terlepas dari kehidupan sosialnya, mereka pun bilang masakan Indonesia itu enak. Dengan catatan mereka heran banget sama antusias orang Indonesia terhadap rasa pedas. Ya bagi orang Jepang bon cabe level 5 juga kayanya udah kerasa pedes banget ya, jadi ga aneh kalau mereka shock dengan masakan pedes di Indonesia. Dibanding di Jepang yang makanannya cenderung agak hambar ya, kalau dibilang habar si engga. Tapi kita jadi tau makanan Indonesia ternyata membuat mereka seneng tinggal di Indonesia. 

    Tapi gimana ya menurut kalian? Apakah Indonesia memang sebagus itu sampe membuat orang Jepang suka sama Indonesia? Menurut aku sih iya ya, Indonesia punya keindahan dan dayatarik tersendiri meskipun dibandingkan Jepang. Jadi ga aneh lah kalau orang Jepang pun bisa sampe suka sama Indonesia. Indonesia dan Jepang pun selama ini punya hubungan baik dan juga kuat dari sisi sejarah. Semoga aja hubungan baik ini bisa terus berjalan, biar kohai-kohai atau penerus kita yang ingin kerja di Jepang bisa terus dipermudah ya. Kalau kalian orang Jepang di Indonesia kalian mau ngapain? Ngajak ngobrol? Atau dibiarin? 

    Itu menurut aku berdasarkan temen-temen orang Jepang yang aku kenal ya guys. Tapi menurut kalian gimana ya? Apa menurut kalian tinggal di Indonesia itu semenarik yang aku ceritain tadi? Kalau engga menurut kalian kenapa ya orang Jepang suka tinggal di Indonesia? Coba tulis di kolom komentar ya.

  • Others

    Apakah Ilmu Bahasa Bisa Hilang?

    Pernah nggak sih merasa lupa bahasa yang dulu pernah dipelajari, entah bahasa asing atau bahkan bahasa ibu? Ini sebenarnya hal yang umum terjadi. Kemampuan bahasa memang bisa "berkarat" kalau jarang digunakan, tapi apakah benar-benar bisa hilang?

    Pernahkah kamu merasa frustrasi karena kosakata bahasa Jepang yang sudah kamu hafalkan dengan susah payah tiba-tiba menguap begitu saja? Atau mungkin kamu pernah berhenti belajar bahasa Jepang untuk sementara waktu, dan saat kembali belajar, merasa seperti memulai dari nol? Jangan khawatir, kamu tidak sendirian! Banyak pembelajar bahasa yang mengalami hal serupa.

    Penelitian menunjukkan bahwa ilmu bahasa cenderung tidak hilang sepenuhnya, tapi lebih terpendam. Proses lupa ini disebut language attrition, di mana kita kehilangan kefasihan karena kurang praktik. Tapi sebenarnya, memori kita masih menyimpan banyak hal tentang bahasa tersebut, hanya saja aksesnya jadi lebih lambat.

    Meskipun sebenarnya, lupa merupakan bagian alami dari proses belajar. Otak kita seperti sebuah komputer yang memiliki kapasitas penyimpanan terbatas. Ketika kita mempelajari hal-hal baru, otak akan membuat koneksi saraf baru. Namun, jika koneksi-koneksi ini tidak sering digunakan, otak akan cenderung memangkasnya untuk membuat ruang bagi informasi baru.

    Kabar baiknya, banyak ahli percaya bahwa meskipun kita melupakan sebagian kosakata atau aturan grammar, belajar ulang bisa lebih cepat. Istilahnya, otak sudah punya "jalan" yang pernah dibangun, jadi proses mengingat kembali akan lebih mudah. Kalau dirangkum, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kelupaan dan cara mengatasinya, seperti :

    1. Frekuensi Penggunaan:
       Singkat kata semakin sering kita menggunakan suatu kosakata atau struktur kalimat, semakin kuat koneksi saraf yang terbentuk, alhasil kita akan semakin sulit lupa. Masih ingat kan aku selalu menyarankan untuk sering-sering menggunakan kosakata yang telah kita pelajari, tujuannya biar lebih nempel dan sukar lupa.
    2. Konteks Pembelajaran:
       Belajar dalam konteks yang relevan dan menarik akan membuat informasi lebih mudah diingat. Banyak cara belajar yang bisa lebih menarik dari sekedar baca buku aja. Seperti belajar Kanji pakai ilustrasi di Kanji Card, belajar bahasa Jepang dari media-media menarik seperti Anime, Drama, Lagu, dll. Meskipun kita tetep butuh buku sebagai panutan utama, tapi untuk menambah referensi yang lebih menarik, kita bisa cari referensi yang menarik sebagai sumber pembelajaran tambahan.
    3. Metode Pembelajaran:
       Menggunakan berbagai metode pembelajaran seperti membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan akan membantu memperkuat pemahaman. Masih ingat dengan "Kamus Personal" kan? Iya, aku pernah sharing cara belajar "mindahin kosakata ke kamus personal", inget ya "mindahin". Dari "mindahin" kosakata setidaknya kalian udah melewati 3 proses yaitu "membaca", "menulis", dan "mengucap".
    4. Jeda Waktu:
       Luangkan waktu secara teratur untuk mengulang materi yang sudah dipelajari. Ingat, selain mindahin kosakata tiap hari, sisipkan juga baca ulang apa yang telah dipelajari, latihan juga untuk buat kalimat secara konsisten. Ga perlu lama-lama tapi, konsisten tiap hari, setidaknya kita bisa ngirim sinyak ke otak untuk tidak melupakan apa yang kita pelajari.

    Yuk simpulkan apa yang kita bahas tadi. Meskipun terasa lupa, ilmu bahasa kita sebenarnya nggak hilang sepenuhnya, hanya perlu diaktifkan kembali dengan latihan rutin! So, konsisten nambahin kosakata dan latihan tiap hari agar otak tidak memangkas sebagai info yang tidak penting, cari media dan konteks relevan yang menarik untuk belajar, dan mindahkan kosakata ke kamus personal sebagai metode pembelajaran khususnya untuk menambahkan bank kosakata. 

    So, ilmu yang tidak dipakai dikeseharian memang cenderung akan dilupakan. Contoh lainnya yang mungkin paling kerasa oleh banyak orang seperti belajar 12 tahun dari SD sampai SMA, namun ilmu yang benar-benar nempel di otak kita bisa jadi dibawah 50 persennya. Kenapa? Karena tidak dipakai di kesehariannya. Nah orang yang udah belajar bahasa Jepang sampai N1 pun, kalau dia tidak melakukan rutinitas yang menggunakan bahasa Jepang, cepat atau lambat ilmu bahasa Jepangnya pasti akan terpangkas, namun waktu yang dibutuhkan untuk mengingat kembail akan lebih mudah daripada mereka yang baru belajar bahasa Jepang. 

    Yang terakhir, apa kalian juga ngerasain hal yang sama dengan yang tadi aku share mengenai kelupaan? Atau mungkin kalian punya pendapat lain? Coba ceritain pendapat kalian, aku tunggu kolom komentar ya!

J-Class, pernah diliput di :