Cari

Belajar Efektif dan Fun di WaGoMu#JapaneseClass

  • Belajar Bahasa Jepang

    Alasan Bahasa Jepangmu Masih Terasa Kurang Natural

    Udah belajar bahasa Jepang cukup lama, ada yang udah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menguasai bahasa Jepang. Pada akhirnya berhasil dapet kerjaan ke Jepang, dan mulai mempertanyakan 1 hal, "Kok bahasa Jepang aku kaya ada yang beda ya sama yang dipake orang Jepang?" Bahasa Jepang yang aku pake ga salah tapi kok kaya ada yang beda, terkesan ga natural kalau dibanding sama orang Jepang. Nah aku yakin diantara kalian banyak yang pernah ngerasain itu. So, kali ini aku mau coba bahas dikit mengenai ngobrol layaknya para native. 

    Kemarin aku udah sharing-sharing cara nerjemahin kalimat untuk pemula ya guys. Gimana udah pada terbiasa? Coba dikit-dikit mulai ngomong bahasa Jepangnya secara spontan ya. Kali ini aku coba sharing next levelnya nih. Gimana cara supaya ngomong kaya orang Jepang. Nah kalau ada yang ngerasa ngobrolnya belum kaya native, menurut aku ada cara berfikir yang mungkin belum selaras dengan gimana orang Jepang berfikir sebelum mereka berbicara. Nah aku coba kasih contoh kalimat gini ya.

    Kinou no barentaindee ni tomodachi ga takai chokoreeto o katte kuremashita.
    昨日(きのう)のバレンタインデーに(とも)(だち)(たか)いチョコレートを()ってくれました。
    Valentine kemarin aku dapet coklat mahal dari teman.

    Kalimat tadi itu kalimat yang mungkin kalian temukan di textbook, dan ini kalimat yang bener secara ilmu bahasa. Tapi, orang Jepang gak akan ngomong seperti itu. So kita mau coba arrange kalimat tadi jadi gimana orang Jepang biasanya ngomong ya, sambil aku jelasin step gimana biar lebih natural.

    1. Mengerti apa yang ingin kalian ucapkan?

    Kalimat tadi itu kalimat yang cukup panjang, dan aku yakin orang Jepang gak akan ngomong kalimat panjang disekaliguskan seperti itu. Jadi pertama-tama dari kalimat tadi kalian ngerti ga apa yang ingin kalian sampaikan? Atau lebih tepatnya apa yang paling ingin kalian sampaikan? Mungkin tiap orang beda-beda ya apa yang paling ingin disampaikannya, so sebagai contoh dari kalimat tadi kita asumsikan yang ingin disampaikannya adalah "dibelikan coklat di hari valentine" ya. Informasi lainnya orang lain mungkin ga begitu peduli. Jadi pahami dulu apa yang ingin kalian sampaikan, dan kita masuk ke point berikutnya

    2. Sebutkan dari yang paling ingin disampaikan duluan.

    Contoh dari point 1 tadi kita ingin sampaikan "dibelikan coklat di hari valentine", jadi sebutkan dulu yang paling penting atau yang paling ingin disampaikannya dulu. Kalau dari contoh tadi akan jadi seperti ini kan ya

    Kinou no barentaindee ni chokoreeto moratannda
    昨日(きのう)のバレンタインデーにチョコレートもらったんだ
    Valentine kemarin aku dapet coklat loh

    Sebutin dulu yang paling penting, kemudian kita masuk ke point berikutnya yaitu

    3. Sebutkan pendek-pendek aja. 

    Dari pengalaman aku 1 tahun di Jepang, aku rasa orang Jepang memang ga suka denger kalimat panjang-panjang. Makanya mereka sering memotong-motong kalimat panjang jadi kalimat yang pendek-pendek. Setelah kita sebutkan point utamanya, baru kita lanjutkan dengan point tambahannya. Jadi berurutan gitu dari yang penting ke yang kurang penting. Oh iya jangan lupa tambahin juga kata-kata penghubung seperti それで, で, けどさ, dll supaya lebih natural ya. So, kalimat panjang tadi kita bisa potong jadi seperti ini,

    Kinou no barentaindee ni choko morattanda
    昨日(きのう)のバレンタインデーにチョコもらったんだ
    Valentine kemarin aku dapet coklat loh
    Soredesa, tomodachi kara nandesu keredo
    それでさ、ともだちからなんですけれど
    Terus, aku nerima dari temen ya

    Choko wa takai mono rashii yo
    チョコは(たか)(もの)らしいよ
    Dan ini katanya coklat mahal loh

    Dibandingin sama kalimat pertama yang kita buat udah ga kaya textbook lagi kan? Setelah kita potong jadi 3 kalimat pendek, makin kerasa kaya orang Jepang banget ga sih? Kalian sering juga pasti denger kalau di anime pada ngomongnya pendek-pendek gitu. Oke aku mau kasih contoh 1 lagi, ada kalimat seperti :

    Eki no chikaku ni koohii ga umakute, sugoku oshare na kafe e tomodachi to ikimashita.
    (えき)(ちか)くにコーヒーがうまくて、すごくおしゃれなカフェへ(とも)(だち)()きました。
    Aku pergi ke kafe cantik banget dan kopinya enak yang ada di dekat stasiun bersama teman.

    Kalimat ini panjang banget loh, orang Jepang biasanya ga akan ngomong panjang gini. So coba pake cara tadi ya

    Sugoku oshare na kafe e ittannda !
    すごくおしゃれなカフェへ()ったんだ!
    Aku pergi ke kafe yang cantik banget loh!
    De tomodachi to itta kedo sa
    で、(とも)(だち)()ったけどさ
    Terus, aku berangkat sama temen kan

    Eki no chikaku ni atte, koohii mo umainda yo
    (えき)(ちか)くにあって、コーヒーもうまいんだよ~
    Tempatnya deket sama stasiun dan kopinya juga enak loh!

    Nah gitu udah kebayang belum cara-caranya? aku mau coba tambahin informasi penting ya. Ketika bicaranya pendek-pendek itu ada fungsi lain sebenernya, yaitu kita ngasih kesempatan lawan bicara untuk (あい)づち (aidzuchi) atau semacam reaksi yang diberikan selama ngobrol biar nunjukkin udah paham atau engganya gitu ya contoh kaya Hmm~, hee~, sou nanda~. Jadi lawan bicara lebih gampang ngasih aidzuchi tadi gitu ya. Seakan-akan kaya kita ngomong pendek, terus ada reaksi, ngomong pendek, terus ada reaksi, dan seterusnya. Kalau gini kan pembicaraan bisa lebih panjang, bisa lebih meluas, dan bikin suasana yang lebih baik sambil liat reaksi lawan bicaranya.

    Selain itu, kalau pendek-pendek omongannya maka akan jadi lebih mudah untuk dicerna oleh pendengar. Ini ga hanya ngomongin dalam bahasa Jepang sih, kalian kalau ngobrol pake bahasa Indonesia juga coba aja pake cara ini. Aku yakin ngobrol ga akan berbelit, bakal lebih enak dan mudah tersampaikan. Kalau dengerin orang ngomong panjang lebar malah jadi "intinya mau ngasih tau apa sih kamu?" gitu kan? Mereka akan ngerasa kaya ga ngobrol sama manusia, malah kaya ngobrol sama robot atau AI gitu.


    So kesimpulannya kalau mau ngobrol kaya native Jepang salah satu yang aku pelajari adalah pertama pahami apa yang ingin disampaikan, kedua sebutin dulu yang paling ingin disampaikan, dan ketiga jangan panjang-panjang tapi bikin urutan kalimat pendek berdasarkan seberapa penting informasinya. Aku kasih kesimpulan lain yang mungkin lebih mudah dipahami sama kalian ya. Jadi kalau mau ngobrol kaya native cobalah ceritakan dari jawabannya dulu, baru kita kasih penjelasan di setelahnya

    Kaya yang aku mention di konten sebelumnya juga kan ya, orang Jepang nyebutin yang paling ingin disampaikan duluan. Jadi kalau agak beda dikit sama pola kalimat benernya ga apa-apa ya kalau lagi ngobrol santai sama native. Pola kalimatnya beda sama yang di textbook jadi ga S K O P gitu ga masalah. Buat lawan bicara kalian ngerti apa yang ingin disampaikan kalian dulu baru tambahin informasi lainnya.

    Nah sekarang udah tau kan point-point yang perlu diperhatikan biar ngobrol kaya native? Coba kalian bisa ga ya praktekin cara ini? Atau bisa deh kalian latihan pake kalimat-kalimat di textbook terus kalian arrange ke cara orang native bicara. Perlu diperhatikan ya, ini biasa digunakan saat ngobrol sehari-hari aja, so dalam konteks yang lebih formal seperti dalam meeting atau semacamnya, sebenernya ga 100% seperti yang aku sampaikan tadi. So gimana pembelajaran hari ini? Kalau ada yang ingin aku bahas di konten berikutnya bisa komen aja biar aku bantuin ya. 

  • Belajar Bahasa Jepang

    Belajar Dasar Keterangan dan Penyebutan Waktu Dalam Bahasa Jepang

    Kita ketemu lagi di bahasan materi bahasa Jepang ya guys. Kali ini aku mau coba bahas lanjutan dari materi yang udah pernah aku share ya. Masih inget kan kita udah bahas bagaimana predikat dalam bahasa Jepang, terus ada juga pembahasan objek dalam kalimat. jadi harusnya udah pada bisa ya bikin kalimat S-O-P. Kali ini kita coba lanjut bahasan mengenai pola kalimat dasarnya, khususnya cara-cara menyebutkan waktu atau keterangan waktu dalam bahasa Jepang. Biar nanti kalian udah bisa nyebutin kapan kejadian atau kegiatannya terjadi ya. Ga usah panjang- panjang pembukaannya, mending kita masuk ke pembahasannya yuk.

    Oke, aku udah mention dikit tadi tapi biar makin jelas, kita coba kenalan dulu sama apa itu keterangan waktu. Intinya keterangan waktu itu keterangan yang nunjukkin kapan terjadinya sesuatu. Contohnya seperti besok, minggu depan, taun lalu, dll. Tapi aku mau sekalian ngebahas juga kosakata atau penyampaian waktu yang lainnya, seperti penyebutan durasi yang menjelasikan berapa lama, dan juga frekuensi yang menjelaskan seberapa sering. Nah untuk yang durasi dan juga frekuensi sebenernya masuk kedalam kata intensitas bukan masuk keterangan waktu, namun berhubung masih berkaitan dengan waktu aku coba bahas juga ya.

    Nah uniknya, dalam bahasa Jepang untuk bisa menyampaikan keterangan waktu kita perlu tau logika yang sedikit berbeda kalau dibanding bahasa Indonesia. Ada yang perlu partikel, ada yang ga perlu partikel. Jadi kita perlu tau dulu kata keterangan yang akan kita sebutkan itu bagian dari yang mana, spesifik atau engga, kemudian yang durasi atau frekuensi pun punya caranya dan penempatannya sendiri. Kalau udah tau logikanya, harusnya penggunaan partikel ataupun penempatan keterangan waktu ini akan terasa sangat mudah kok. Kita coba kenalan satu-per satu yuk. Kita mulai bahas dari keterangan waktu kapan kejadiannya.

    Keterangan Waktu Kapan Kejadiannya 

    Kalau kalian belajar bahasa Jepangnya pakai buku kaya buku Minna no Nihongo, kalian udah ketemu sama cara penyebutan waktu di bab-bab awal. Memang yang kita bahas pertama ini termasuk basic banget ya, tapi terkadang masih ada yang keliru, dikarenakan ada logika yang penggunaan partikel yang bisa jadi masih ada yang kurang paham. Yaitu membedakan kapan kita harus pakai partikel に dan kapan ga perlu pakai partikel. 

     Iya, jadi waktu kita ngasih tau kapan kejadiannya, penyebutannya ada 2 kemungkinan. Intinya, kita akan harus menggunakan partikel に ketika keterangan waktunya ada angkanya atau spesifik. Berarti kalau ga ada angka atau ga spesifik, jangan pake partikel に ya. Nah terkadang ada yang kurang mengerti maksud dari spesifik di sini itu apa ya? Contoh kita liat kalimat simple berikut:

    Watashi wa kesa tabemashita 
    (わたし)今朝(けさ)()べました
    Aku makan tadi pagi
    Watashi wa ashita no asa ni hatarakimasu
    わたし明日あしたあさはたらきます
     Aku bekerja pagi besok
    Watashi wa 5 ji ni ikimashita
    わたし5きました
    Aku berangkat jam 5
    Watashi wa sen kyuu hyaku kyuu juu yon nen ni umaremashita
    わたし1994ねんまれました
     Aku lahir di tahun 1994


    To the point ya, kalimat 1 ga perlu に sedangkan yang 2 perlu partikel に. Ini karena "tadi pagi" masih cukup luas cangkupan periodenya, sehingga kita belum bisa tau pagi kapannya. Sedangkan "pagi besok" akan pakai partikel に karena dari kata "besok" yang masih ga jelas, kemudian diperjelas dengan kata "pagi", sehingga kata gabungan "pagi besok" ini terhitung sebagai spesifik. Kalau yang contoh 3 dan 4 mah udah pasti pakai に ya, karena ada angkanya. Sekarang kita coba liat contoh lain yang ga perlu pakai itu seperti berikut :

    Watashi wa konban nemasu
    (わたし)(こん)(ばん)()ます
    Aku tidur malam ini
    Watashi wa raishuu jakaruta e ikimasu
    (わたし)(らう)(しゅう)ジャカルタへ()きます
    Aku pergi ke Jakarta minggu depan
    Watashi wa kyonen sushi o tabete mimashita
    (わたし)(きょ)(ねん)寿()()()べてみました
    Aku udah cobain makan sushi tahun lalu 

    Udah keliatan banget kan ya, 3 kalimat di atas pakai keterangan waktunya masih abu-abu, dan ga jelas kapannya gitu. Tidur malam ini, jam berapa?, pergi ke Jakarta minggu depan hari apa?, yang makan sushi ini lebih parah, dari tanggal 1 januari sampai 31 desember dia kapan makan sushi nya ga jelas kan? Sampe sini udah kebayang ya yang ga spesifik itu yang seperti apa?

    Di contoh tadi aku buat juga, tapi izin untuk coba jelasin lebih detail case dimana kalau keterangan waktunya berupa kata gabungan seperti kata gabungan KB + KB, maka kata gabungan itu akan terhitung spesifik, sehingga biasanya akan menggunakan partikel に di kalimatnya. Contohnya seperti berikut:

    Watashi wa senshuu no getsuyoubi ni karimashita
    (わたし)(せん)(しゅう)(げつ)(よう)()()りました
     Aku meminjamnya senin minggu lalu
    Watashi wa kayoubi no yuugata ni benkyou shimasita
    (わたし)()(よう)()(ゆう)(がた)(べん)(きょう)しました
    Aku belajar sore hari selasa
    Watashi wa raigetsu no chuujun ni kaerimasu
    (わたし)(らい)(げつ)(ちゅう)(じゅん)(かえ)ります
    Aku pulang pertenganhan bulan depan

    Kalau gini kan kita bisa tau detailnya kapan. Seperti Minggu lalunya hari apa, waktunya udah lebih spesifik. Hari selasanya juga selasa kapannya udah dispesifikkan. Bulan depannya bulan depan kapan juga ya. Kalau udah berupa kata gabungan, biasanya mereka sudah terhitung spesifik ya, jadi kita akan perlu menggunakan partikel に. Nah dari penjelasan tadi coba kita simpulkan ya 

    1. Kalau ada angkanya seperti nunjukkin jam, menit, tanggal, bulan, dan tahun itu udah pasti kita pakai partikel に.
    2. Tapi kalau keterangan waktunya berupa kata tunggal yang ga spesifik atau masih abu-abu kita ga perlu pakai に.
    3. Kalau keterangan waktunya terdiri dari kata gabungan KB + KB, maka kita akan memerlukan partikel に.

    Kak, gimana kalau kita pakai に di waktu yang ga spesifik? Jawabannya AMAN, tersampaikan dan orang Jepang pun terkadang gitu, tapi ga natural aja nanti kesannya. Kalau sampai sini udah paham, kita coba liat contoh kalimat dibawah. Aku ga akan langsung kasih jawabannya, ga akan kasih terjemahannya juga, tapi coba perhatikan dan bayangin dulu dari contoh kalimat berikut mana yang harus ada partikel に dan mana yang ga perlu. Jawabannya aku simpen di bagian paling bawah artikel ini ya.

    1. (わたし)明日(あした)( )(がっ)(こう)()きます
    2. (かい)()(らい)(しゅう)()(よう)()( )(おこな)われます
    3. 7()( )()きて、すぐシャワーを()びます
    4. (きょ)(ねん)(はる)( )()(ぞく)(さくら)()たよ
    5. ()(もの)がおいしいから、明後日(あさって)( )(とも)(だち)(いっ)(しょ)()ようかな
    6.  ()りた(ほん)は9(がつ)( )(かえ)したと(おも)いますよ


    Gimana? Apa udah pada pegang jawabannya masing masing kan? Nanti check di paling bawah untuk jawabannya ya. Aku sengaja ga buatin dulu cara baca, dan arti kalimat-kalimatnya ya biar kalian fokus sama partikelnya pakai に atau ga pakai partikel. 

    Dari tadi aku baru bahas soal partikelnya, sekarang aku coba mention singkat aja mengenai posisi penempatan keterangan waktu. Memang posisi paling benernya dipasang di antara SUBJEK dan OBJEK. Inget ya pola kalimat dalam bahasa Jepang itu S-K-O-P. Jadi kalau kata keterangannya ada banyak, selama semua deretan keterangannya ada di antara SUBJEK dan OBJEK, maka sah-sah aja. Contohnya seperti berikut:

    Watashi wa  shichiji ni tomodachi to  eiga o  mimasu
    (わたし) 7()に (とも)(だち) (えい)() ()ます
      S                  K                  O             P
    Aku  nonton  film  bersama teman jam 7
      S         P         O                    K

    Urutan bersama teman dan jam 7 bisa kalian tukar-tukar, karena masih di area kata keterangan. Seacara ilmu kebahasaan, posisi ini paling bener. Meskipun gitu, banyak juga orang yang pasangnya di sebelum SUBJEK, jadinya "7時に私は友達と...", kalimat ini ga salah dan sah-sah aja. Ini dikarenakan cukup banyak orang Jepang yang biasa nyebutin waktu duluan. Casenya mirip sama orang Indonesia kan ya hhe. Yang masih kurang jelas, bisa baca artikel cara menyusun kalimat bahasa Jepang atau tonton video berikut ya 



    Waktu Durasi dan Frekuensi 

    Kalau ngomongin durasi, itu singkat kata berapa lama kejadian atau kegiatannya. Kalau kita menjelaskan kapan terjadinya harus liat apakah kita pakai partikel に atau engga, nah ngomongin durasi dan juga frekuensi kita ga perlu mikirin partikel ya, cukup pasang aja kosakata durasi atau frekuensi di kalimatnya ga perlu nambahin partikel apa-apa. Coba kita liat di contoh-contoh berikut:

    Watashi wa mainichi nihongo o benkyou shite imasu
    (わたし)(まい)(にち)()(ほん)()(べん)(きょう)しています
    Saya tiap hari belajar bahasa Jepang
    Watashi wa kinou ni jikan eiga o mimashita
    (わたし)昨日(きのう)2()(かん)(えい)()()ました
    Saya kemarin nonton film 2 jam
    Watashi wa maishuu yon kai undou shite imasu
    (わたし)(まい)(しゅう)4(かい)(うん)(どう)しています
    Saya tiap minggu olah raga 4 kali
    Watashi wa maitoshi kazoku to ni kai ryokou shite imasu
    (わたし)(まい)(とし)()(ぞく)2(かい)(りょ)(こう)しています
    Saya traveling 2 kali tiap tahun bareng keluarga 

    Dari 4 kalimat di atas, kita bisa lihat bahwa di setelah durasi ataupun frekuensi, kita ga perlu nambahkan partikel apapun ya. Nah mungkin pada sadar juga, bahwa posisinya penempatannya kok ada yang berbeda ya. Jadi durasi ataupun frekuensi, secara posisi pun terbilang cukup fleksibel. Berbeda sama keterangan waktu kapan yang udah pasti ada di posisi yang ditentukannya, penempatan durasi ataupun frekuensi itu sebenernya ga ada. Tapi supaya bisa terkesan lebih natural, sebenernya ada kebiasaan penempatan yang digunakan orang Jepang. Biasanya durasi ataupun frekuensi dipasang di sebelum objek, atau sebelum predikat, balik lagi ya ini ga harus dan ga selalu. Aku coba kasih contoh tambahan yang posisinya aku coba ubah ya.

    Watashi wa maishuu shacho to ni kai kaigi shite imasu yo
    (わたし)(まい)(しゅう)(しゃ)(ちょう)2(かい)(かい)()していますよ
     Saya rapat 2 kali dengan pimpinan setiap minggu

    Watashi wa maishuu ni kai shacho to kaigi shite imasu yo
    わたし(まい)(しゅう)2(かい)(しゃ)(ちょう)(かい)()していますよ
    Saya rapat dengan pimpinan setiap minggu 2 kali 
    Watashi wa ni kai shacho to maishuu kaigi shite imasu yo
    わたし2(かい)(しゃ)(ちょう)(まい)(しゅう)(かい)()していますよ
    Saya rapat setiap minggu dengan pimpinan 2 kali 

    Dari kalimat di atas, kalimat ketiga mungkin banyak orang termasuk aku ngerasa kurang sreg mungkin. Tapi kalian mau pake kalimat yang manapun, maksud dari kalimatnya ga akan berubah, dan secara kalimat pun sah-sah aja. Terus kalau di paling depan bisa ga kak? Misal dari kalimat yadi jadi 毎週私は.... gimana boleh ga? Boleh, biasanya untuk kosakata frekuensi seperti 毎日 (tiap hari), 毎週 (tiap minggu), dll sih cukup sering denger pada make di posisi awal kalimat, tapi ga harus ya. Silahkan sesuaikan aja ya posisinya.

    Gimana guys bahasan kali ini? Kali ini kita fokus sama pembahasan waktu dalam kalimat, aku udah share contoh-contohnya juga, semoga membantu dan memberikan penjelasan untuk kalian. Kalau masih ada yang kurang paham, atau ada yang ingin kita bahas lebih dalam lagi, coba tulis di kolom komentar ya biar aku coba bahas di artikel berikut-berikutnya. 

    Berikut jawaban dari pertanyaan tadi ya, silahkan dicheck... 

    Watashi wa ashita gakkou e ikimasu
    (わたし)明日(あした)がっこうきます
    Aku pergi ke sekolah besok
    *ga perlu nambahkan partikel に, karena kata keterangan waktu yaitu 明日 itu tidak ada angkanya ataupun spesifik

    Kaigi wa raishuu no doyoubi ni okonawaremasu 
    (かい)()(らい)(しゅう)()(よう)()(おこな)われます
    Rapatnya diadakan sabtu minggu depan
    *pakai partikel に, karena kata keterangan waktunya 来週の土曜日 merupakan kata gabungan sehingga bisa kita anggap spesifik
    Shichi ji ni okite, sugu shawaa o abimasu
    7()()きて、すぐシャワーを()びます
    Bangun jam 7, kemudian langsung mandi (shower)
     *pakai partikel に, karena kata keterangan waktunya 7時 ada angkanya

    Kyonen no haru ni kazoku to sakura o mita yo
    (きょ)(ねん)(はる)()(ぞく)(さくら)()たよ
    Aku lihat sakura bareng keluarga di musim gugur tahun kemarin loh
     *pakai partikel に, karena kata keterangan waktunya 去年の春 merupakan kata gabungan sehingga bisa kita anggap spesifik
    Tabemono ga oishii kara, asatte tomodachi to issho ni koyou ka na
    ()(もの)がおいしいから、明後日(あさって)(とも)(だち)(いっ)(しょ)()ようかな
    Karena makanannya enak, kayanya besok lusa datang lagi bareng temen ya
    *ga perlu nambahkan partikel に, karena kata keterangan waktu yaitu 明後日 itu tidak ada angkanya ataupun spesifik
    Karita hon wa kugatsu ni kaeshita to omoimasu yo
    ()りた(ほん)9(がつ)(かえ)したと(おも)いますよ
    Buku yang aku pinjam udah aku kembalikan bulan september
     *pakai partikel に, karena kata keterangan waktunya 9月 ada angkanya

  • Belajar Bahasa Jepang

    7 Cara Menyebutkan 'Saya' Dalam Bahasa Jepang

    Halo guys, pernah ga sih ketika belajar bahasa Jepang kalian nemu kalimat yang nyebutin 'saya' tapi kok kosakatanya berbeda ya? Ada kalimat yang nyebutin 'saya' pakai 'watashi', ada juga yang pakai 'boku'. Nah lho bedanya apa ya ?

    Di dalam bahasa Indonesia juga sama ya, ada beberapa cara untuk menyebukan pihak pertama seperti "saya", "aku", "diriku", dll. Nah di dalam bahasa Jepang juga sama. Setidaknya aku udah coba rangkum ada 7 cara menyebutkan pihak pertama dalam bahasa Jepang. Kali ini aku akan mau coba jelasin macam-macam cara menyebutkan pihak pertama dalam bahasa Jepang. Aku coba masukin contoh pengalaman aku selama di Jepang ya, biar dapet gambaran dari perbedaan penggunaan kosakatanya. Yuk kita masuk ke pembahasan.

    1. Watashi ((わたし))

    私 (watashi) adalah cara penyebutan “saya” yang paling umum dan biasanya paling pertama dipelajari ya. Contohnya di buku Minna no Nihongo kosakata ini merupakan kosakata pertama yang dipelajari. Watashi sendiri adalah bentuk penyebutan “saya” yang paling dasar dan luas, sehingga bisa digunakan oleh laki-laki maupun perempuan. Nuansanya pun sopan, sehingga watashi itu disebut-sebut sebagai cara menyebutkan saya yang paling aman dalam kondisi apapun. Namun dari pengalaman aku selama di Jepang, orang Jepang yang pakai watashi lebih jarang digunakan ketika berbicara dengan teman yang udah akrab, dan cenderung menggunakan kosakata yang lain. Penggunaan watashi digunakan ketika perkenalan, atau ngobrol sama orang yang ga kenal atau ga akrab, contohnya seperti berikut : 

    Watashi no namae wa manda desu.
    (わたし)()(まえ)はマンダです。
     Nama saya adalah Manda.

     Watashi wa kouban e ikitai desuga, kouban ha doko deshou ka?
    (わたし)(こう)(ばん)()きたいですが、(こう)(ばん)はどこでしょうか
    Aku ingin pergi ke pos polisi, posnya ada dimana ya?

    2. Ore ((おれ))

    Kalian pasti ga asing sama satu kosakata ini. 俺 (ore) itu bukan "saya" ya artinya, kalau di bahasa Indonesia mungkin seperti "gua", atau dalam bahasa sunda itu seperti "aing". Jadi ore itu bahasa kasual ke kasar guys sebenernya. Makanya sering banget digunakannya oleh laki-laki ke teman-teman akrabnya, atau ketika lagi marah gitu suka dipake juga ini kosakata. Bukan berarti perempuan tidak menggunakannya ya, perempuan juga terkadang ada yang pake, meskipun jarang banget. 

    Ore ini sering juga digunakan di media seperti anime, drama, dll. Dan memang biasa digunakan oleh anak gang sekolahan ataupun anak gaul di Jepang. Tapi ingat, jangan pakai ore pada saat acara formal ya temen-temen, karena sekali lagi kata ini sifatnya kurang sopan dan kita akan terdengar seperti orang yang sombong. Contoh penggunaannya :

     Ore sa hontou ni hima da na.
    (おれ)(ほん)(とう)(ひま)だな
     Gua lagi bosen banget nih

      Ore no na wa manda da
    (おれ)()はマンダだ
     Nama gua manda

    3. Atashi (あたし)

    Atashi adalah bentuk lain dari watashi. Atashi ini biasanya dipakai sama perempuan dan sekarang biasa dikenal sebagai bentuk feminin dari watashi. Sama seperti watashi, atashi juga merupakan bentuk dasar dari cara penyebutan “saya” hanya saja atashi biasanya hanya digunakan oleh perempuan dan biasanya laki-laki yang memakai ini untuk menyebutkan diri mereka akan dianggap aneh. Tapi dengan perkembangan jaman, sekarang perempuan yang menggunakan atashi pun mulai berkurang. Meskipun begitu, atashi masih digunakan oleh sebagian perempuan. Selama aku di Jepang pun terkadang denger ada perempuan yang pakai atashi untuk nyebutin diri sendiri. Berikut contoh penggunaan atashi:

    Atashi wa ichigo keeki ga suki desu.
    あたしは(いちご)ケーキが()きです。
    Saya suka kue stroberi.

     Atashi wa honya de hon wo kaimashita.
    あたしは(ほん)(とう)(ほん)()いました。
    Saya membeli buku di toko buku.

    4. Boku ((ぼく))

    僕 (boku) adalah cara kasual dalam menyebutkan “saya” dalam bahasa Jepang. Kata boku ini biasanya digunakan oleh laki-laki. Meskipun kasual, boku cenderung lebih formal dan cukup aman dipakai di berbagai situasi. Contohnya kita bisa gunakan kepada atasan kita ketika kita sudah akrab dengan mereka, dan kita gak mau terlalu formal juga ketika ngobrol dengan mereka. Aku sendiri sebagai laki-laki lebih nyaman menggunakan boku, dari pada kosakata yang lainnya. Walau boku ini digunakan oleh laki-laki, beberapa perempuan juga ada yang memakai boku ketika mereka menyebutkan diri mereka, ketika boku digunakan oleh perempuan mereka akan dinilai sebagai perempuan yang tomboy. Coba kita liat contoh penggunaannya:

     Boku wa gakkou e ikimasu.
    (ぼく)(がっ)(こう)()きます。
    Aku berangkat ke sekolah.

     Boku no ie wa asoko ni arimasu
    (ぼく)(いえ)はあそこにあります。
    Rumah ku ada di sebelah sana

    Sebelum kita lanjut ke kata yang selanjutnya, aku ada fakta menarik nih seputar boku. Jadi pada jaman dulu kanji boku itu dibaca yatsugare (やつがれ) yang artinya pelayan, dan pada era Meiji, yatsugare mulai disebut dengan boku oleh banyak murid-murid pelayan sebagai bentuk untuk menyebutkan diri sendiri. Tidak hanya itu, boku juga dapat digunakan untuk memanggil anak kecil, seperti misalnya anak kecil yang sedang terpisah dari orang tuanya.

    5. Watakushi (わたくし)

    Watakushi adalah bentuk formal dari watashi. Watakushi sendiri biasanya digunakan pada saat acara-acara penting seperti contohnya rapat, atau pertemuan bersama pers. Tidak hanya itu, watakushi juga biasa digunakan untuk berbicara dengan atasan kita di tempat kerja dan digunakan untuk menyampaikan pengumuman secara umum. Selain pekerja, watakushi juga biasa digunakan oleh tokoh politikus untuk menyebutkan diri mereka sendiri. Kalau aku hanpir ga pernah menggunakan yang satu ini, mungkin karena aku jarang ada di dalam kondisi yang mengharuskan aku pake watakushi. Tapi sebagai contoh bisa liat yang di bawah ini ya:

    Watakushi no sei de gomeiwaku wo okakeshi, moushiwake gozaimasen deshita.
    わたくしのせいでご(めい)(わく)をおかけし、(もう)(わけ)ございませんでした。
    Saya dengan tulus meminta maaf kepada Anda atas masalah yang saya sebabkan.

    Watakushi wa kore nite jishokusasete itadakimasu
    わたくしはこれにて()(しょく)させていただきます。
    Saya adalah dengan ini akan mengundurkan diri.

    6. Uchi (うち)

    Kalau anak laki-laki ada boku untuk nyebutin diri mereka, perempuan ada uchi. Uchi adalah cara penyebutan “saya” yang biasa digunakan oleh para gadis. Uchi ini memiliki level yang sama dengan boku dan terkadang hanya digunakan oleh para gadis dan ketika mereka beranjak dewasa, mereka biasanya akan mulai menggunakan atashi.

     Uchi wa kimi no koto ga suki desu
    うちは(きみ)のことが()きです。
    Aku suka dirimu.

    Uchi wa horaa eiga wo mimasu
    うちはホラー(えい)()()ます。
    Aku menonton film horror

    7. Jibun (()(ぶん))

    Nah untuk yang terakhir ini, aku ada cara yang paling cocok buat kalian para atlit atau kalian yang mau keliatan beda nih. Selain watashi, kita bisa menggunakan jibun untuk menyebutkan diri kita sendiri. Jibun sendiri biasanya dinilai sebagai cara untuk menyebutkan diri sendiri untuk orang yang ternilai sopan ataupun tenang. Jibun ini bisa digunakan secara kasual dan juga formal. Jadi untuk kalian yang ingin dinilai sebagai orang yang sopan dan lembut, kalian bisa pakai jibun untuk menyebutkan diri kalian sendiri. Contohnya :       

    Jibun wa sakka senshu ni naritai desu.
    ()(ぶん)はサッカー(せん)(しゅ)になりたいです。
    Saya ingin menjadi atlet sepakbola.

     Jibun wa urusai hito ga dai kirai desu
    ()(ぶん)はうるさい(ひと)(だい)きらいです。
    Saya sangat tidak suka orang yang berisik


     Sebenarnya masih ada cara-cara menyebutkan 'saya' yang lainnya guys, tapi kebetulan saya bahas yang mungkin kalian sering atau masih suka digunakan sekarang. Kalian mungkin pernah juga denger (われ) (ware), わし (washi), わい (wai), あたい (atai), あてし (ateshi), dll. Kata-kata tersebut bisa diartikan dan berfungsi sebagai 'saya' tapi mungkin udah jarang digunakan atau hanya kalian dengar di daerah-daerah tertentu.

     Kalian bisa juga check video dibawah mengenai macam-macam cara penyebutkan saya dalam bahasa Jepang yaa, Jangan lupa like & subscribe channelku juga yaa


    Gimana guys? Kira-kira setelah belajar tentang cara lain untuk ngomong saya di bahasa Jepang ? Menyebutkan saya di Jepang memang berbeda-beda tergantung kebiasaan orang dan kondisi atau konteks penggunaannya. Sekarang kalian bakal pakai yang mana nih untuk nyebut diri kalian nantinya ? 


  • Belajar Bahasa Jepang

    Bahasa Jepang Itu Bisa Karena Terbiasa Atau Karena Formula?


    Okey guys, masih inget kan sebelumnya aku pernah bahas mitos "belajar bahasa Jepang mah WAJIB langsung dari native" dan setelah baca-baca artikel itu pun kalian mungkin punya pendapat kalian masing-masing. Kali ini aku mau coba bahas sesuatu yang masih nyambung dengan bahasan itu, tapi dengan pandangan yang berbeda. Yang siapa tau bisa ngasih gambaran atau pandangan baru buat kalian tentang belajar bahasa Jepang. So kali ini kita akan menjawab pertanyaan tentang belajar bahasa Jepang itu bisa karena "Terbiasa" atau karena "Formula"? Yuk kita masuk ke pembahasan.

    Seperti yang tadi aku mention, dalam pembelajaran bahasa Jepang saat ini ada dua aliran pemikiran utama yang sering bikin kita bingung "mau ngikutin yang mana gitu belajarnya". Dua aliran tersebut yaitu: 

    Tim Terbiasa yang menjunjung tinggi kebiasaan atau intuisi bahasa Jepangnya. Belajar seperti anak kecil—dengarkan terus-menerus, tiru, dan bahasa akan masuk dengan sendirinya. Biasanya punya prinsip bicara dulu, mikir belakangan.
      
    Tim Formula yang menjunjung tinggi aturan dan tata bahasa. Hafalkan semua pola kalimat, partikel, dan konjugasi kata kerja. Biasanya punya prinsip pahami aturannya dulu, baru bicara.

    Setelah tau ada dua aliran ini, kalian masuk ke yang mana? Tip terbiasa atau formula? Sebenernya yang mana yang paling benar? Apakah kita harus memilih salah satunya aja? Atau bisa jadi kita harus mencampur kedua aliran tadi? Disini kita coba bahas tuntas bagaimana kedua pendekatan ini bekerja dalam konteks belajar bahasa Jepang. Pertama kita coba bahas dari terbiasa atau intuisi.

    Istilah terbiasa yang aku pake ini adalah proses mendapatkan bahasa secara naluriah (intuisi) melalui paparan yang konsisten. Nah kalau aku kaitkan dengan tipe orang, berarti tim tebiasa itu orang yang banyak-banyak membiasakan diri dengan mendengar, mengulang, dan menggunakan sampe kita terbiasa dengan bahasa Jepang. Ini yang dialami sama para native Jepang yang menggunakan bahasa Jepang setiap hari dari mereka kecil. Ya native Jepang aja ga dikit dari mereka malah ga begitu mengerti bagaimana pola kalimat bahasa Jepang yang benernya. 

    Tapi di sini aku mau pusatkan contohnya pada orang Indonesia yang berangkat ke Jepang belum lulus N5, dan saat ini dia udah pulang setelah magang 5 tahun di Jepang. Setelah long stay dan tiap hari pake bahasa Jepang, mereka melihat kata おかえりなさい (okaerinasai) menjadi sebuah satu kesatuan kosakata, tanpa mengetahui kata tadi itu hasil olahan dari konjugasi atau perubahan kata kerja. Mereka terbiasa menggunakannya kosakatanya tanpa bener-bener mengerti kosakata yang dimaksud. Tapi karena sehari-hari di Jepang mereka mendengarkan orang ngomong kosakata itu di kondisi tertentu, mereka langsung menggunakannya sesuai yang dia tangkap. Mereka lebih memusatkan terbiasa dengan apa yang didengar dan mereka praktikkan langsung di kehidupan mereka. 

    Tidak ada formula atau rumus yang mengajarkan kita aksen atau intonasi yang alami, dan biasanya cuman bisa kita dapatkan dengan mendengar dan mengulangnya, puluhan, ratusan atau mungkin ribuan kali. Itu baru ngomongin aksen, selain aksen pun ada banyak kosakata dengan nuansa yang berbeda-beda. Karena sering mendengarkan dan berbicara dengan native, tipe terbiasa akan lebih mengerti kosakata berdasarkan nuansa, yang terkadang tidak diajarkan di buku pelajaran. Contohnya saat terkesan sama orang lain kita bisa pake kosakata すごい (sugoi), やばい (yabai), atau なるほど (naruhodo), nah tipe terbiasa ini bisa lebih tau mana yang sebaiknya dipake. Ya bisa jadi ga bener-bener ngerti sih, tapi mereka tau dalam kondisi tertentu biasanya orang pake kosakata yang mana. 

    Oleh karena itu, orang yang tipe terbiasa akan lebih mudah terbiasa dari sudut pandang lancar berbicara secara langsung. Tapi disisi lain tipe ini sering banget mengandalkan intuisi mereka tanpa dasar formula, sehingga sering terjadi kesalahan struktural seperti salah menggunakan partikel, posisi kalimat, dll. Balik lagi prinsip dari tipe terbiasa adalah bicara dulu, mikir belakangan. Apakah ini sebuah kesalahan? Aku sih ga begitu melihat ini sebagai kesalahan selama tersampaikan dengan baik. Tapi ya khawatir juga kalau si tipe terbiasa ini masuk kedalam kondisi formal ya. Di sisi lain, aku yakin banyak juga diantara kalian yang suka ngerasa ga tenang kalau ga begitu tau apa yang diucapin. Makanya muncul tipe kedua yaitu tipe formula.

    Istilah formula yang aku gunakan merujuk pada tata bahasa, pola kalimat, dan juga aturan-aturan struktur kalimat yang benar. Beda sama tipe terbiasa yang mengandalkan intuisi atau kebiasaan dia saat berbicara, tipe formula adalah orang-orang yang biasa membangun atau meracik dulu kalimat sesuai struktur yang seharusnya, baru mulai bicara. Inilah yang membuat tipe formula biasanya butuh waktu untuk bisa lancar atau fasih berbicara bahasa Jepang. Karena mereka memikirkan dulu kosakata, pola kalimat, dan juga partikel yang akan digunakan. Semua itu untuk memastikan bahwa tidak ada kesalah saat berbicara. Kebanyakan tipe ini lebih memilih diam dari pada salah ngomong, atau setidaknya diam sampai dia berhasil merumuskan mau ngomong apa. Makanya tipe formula di awal-awal bakal lebih sering terasa kaya pendiem atau dianggap si paling kaku bicaranya. Ini karena mereka menyesuaikan dengan pola kalimat seharusnya, di mana native pun ga begitu memperhatikan struktur kalimat yang akan mereka ucapkan. Tapi mau gimana ya? Prinsip tipe formula adalah pahami dulu aturannya, baru bicara.

    Di sisi lain, tipe ini dia paham betul dengan pola kalimat dan berbagai macan fungsi partikel. Sehingga mereka lebih mudah untuk memahami kalimat yang panjang dan kompleks. Bisa dibilang, kekuatan tipe formula ada ketika menerjemahkan atau menggunakan bahasa Jepang yang formal. Contohnya para pekerja white collar seperti manager yang menghubungkan antar perusahaan, resekpsionis hotel international yang tiap hari pake bahasa formal, ada juga interpreter yang menerjemahkan 2 bahasa yang kompleks. 

    Ya aku ga bisa bilang mereka yang tipe formula itu salah karena banyak mikir sebelum bicara. Karena memang udah seharusnya kita ga hanya mengandalkan intuisi, tapi kita mengerti juga dengan apa yang kita ucapin sebelum mulai bicara. Maka idealnya memang kita menggabungkan keduanya. Bisa kita mulai dari membangun dasar bahasa Jepang dengan cara tipe formula, coba mulai dari belajar bahasa Jepangnya OTODIDAK pake buku Minna no Nihongo, dan coba belajarnya step by step ya. Kalau mau dibantu, kita ada program belajar N4 cuman 15 hari kok, yang penasaran bisa tanya-tanya tim aku ya. Nanti sambil belajar formulanya seperti apa, kita bisa sambil membangun intuisi dengan banyak-banyak mendengarkan orang Jepang bicara. Ya intuisi memang idealnya itu dibangun ketika udah dipake tiap hari di keseharian kita, dan ini biasanya beneran kita rasain ketika udah di Jepang. Tapi sebagai persiapan awal kalian bisa manfaatin anime, musik, drama, dll untuk membangun intuisi tahap awal. Minimal kita terbiasa mendengarkan dan memahami apa yang dibicarakan dalam bahasa Jepang terlebih dahulu. 

    Kalau menurut aku sih, prinsip paling benernya yaitu "Formula membuat kita benar, terbiasa membuat kita fasih". Maka sebab itu, menggabung keduanya itu udah jadi hal yang penting dalam pembelajaran bahasa Jepang. Tapi gimana menurut kalian? Kalian masuk tipe mana? Atau mungkin kalian punya pendapat lain? Coba tulis di kolom komentar ya. 

  • Belajar Bahasa Jepang

    Belajar Bahasa Jepang: Panduan Lengkap Kata Penghubung Level N5 dan N4

    Di zoom session aku pernah dapet pertanyaan seperti dibawah ini.

     "kak kan ada そして, それから, dan それで ya, nah bedanya apa sih kak? Bukanya semuanya sama ya?"

    So, aku mau ambil kesempatan ini untuk sharing pembelajaran bahasa Jepang lagi nih. Kali ini aku mau lanjutin belajarnya di bagian kata penghubung, dimana kata penghubung dalam bahasa Jepang ternyata mirip-mirip ya. Kalau belum terbiasa terkadang bingung mau pake yang mana. Khususnya aku kali ini bahas yang biasanya muncul di level N5 dan N4 dulu deh. Nanti kalau ada kesempatan lagi, aku coba bahas yang next levelnya. Jadi coba ikutin sampe beres yuk biar dapet bayangan penggunaan-penggunaannya.

    Menurut KBBI, "kata penghubung" atau "kata hubung" diartikan sebagai "kata atau ungkapan yang berfungsi untuk menghubungkan antarkata, antarfrasa, antarklausa, dan antarkalimat". Sedangkan dalam bahasa Jepang "kata penghubung" itu disebut 接続詞 (setsuzokushi) yang secara jumlah memang cukup banyak dan sebagiannya memang mirip mirip secara penggunaan. Bahkan sampe N4 aja udah lumayan banyak ya, jadi kali ini aku coba bahas sebagian dulu, dan nextnya aku akan bahas lanjutannya. Aku juga mau coba jabarin atau kelompokan berdasarkan fungsinya ya, biar kalian yang bacanya bisa langsung tau perbedaan masing-masing kata penghubungnya. So kita masuk ke pembahasan yuk.

    Kesejajaran dua kalimat dan penambahan informasi

    Pertama ada そして (soshite) yang udah keluar dari level N5, dan dilanjutkan di N4. そして punya fungsi memberi kesan kesejajaran antara kalimat 1 dan kalimat 2, atau penambahan informasi dari kalimat 1. Ya intinya penggunaan そして itu seperti "dan", "kemudian", atau "selanjutnya" dalam bahasa Indonesia, dan memang sering digunakan untuk menghubungkan dua klausa atau kalimat yang memiliki kedudukan sejajar, baik nunjukkin kegiatan/kejadian berikutnya maupun penambahan informasi yang ga ada di kalimat sebelumnya. Contohnya :

    Kare wa choushoku o tabemashita. Soshite, sugu ie o demashita.
    かれちょうしょくべました。そして、すぐいえました。
    Dia sudah makan sarapan. Kemudian ia segera pergi ke luar rumah. 

    Toukyou wa hiroi machi desu. Soshite, totemo nigiyaka desu.
    とうきょうひろまちです。そして、とてもにぎやかです。
    Tokyo kota yang luas. Dan juga sangat ramai.


    Ada juga yang mirip dengan そして yaitu それに (soreni). Tapi, それに penggunaannya lebih terbatas untuk penambahan informasi saja. Meskipun ga bisa nunjukin urutan kegiatan, それに punya peran unik untuk memperkuat penegasan informasi tambahan yang ada di kalimat keduanya. Jadi ketika memberikan argumen, atau pendapat biasanya kalimat di setelah それに punya penegasan yang lebih kuat daripada ketika menggunakan そして. Kalau di bahasa Indonesia sama kaya "selain itu", "ditambah lagi", dan "lagipula". Contohnya kalau kita bandingkan dengan kalimat yang sama dengan そして tadi akan seperti :

    Toukyou wa hiroi machi desu. Soreni, totemo nigiyaka desu. 
    とうきょうひろまちです。それに、とてもにぎやかです。
    Tokyo kota yang luas. Selain itu sangat ramai. 


    Mungkin sekilas sangat mirip bahkan terlihat sama, tapi ketika pakai それに Mungkin sekilas sangat mirip bahkan terlihat sama, tapi ketika pakai それに informasi tambahan yaitu "sangat ramai" memiliki penekanan yang lebih tinggi kalau dibanding pakai そして.


    Menunjukkan sebab akibat

    Di N5 dan N4 udah ada beberapa kata penghubung yang menunjukkan sebab akibat. Pertama ada ~から (kara) dan bentuk yang lebih sopannya yaitu ~ので (node). Kalau di bahasa Indonesia seperti "karena", "dikarenakan", "sebab", dan sebagainya. Selain tingkat kesopanannya yang berbeda, ada satu perbedaan lain yang sangat membedakan kedua kata penghubung ini. Yaitu ~から cenderung lebih menunjukkan alasan yang subjektif (menurut pembicara), sedangkan ~ので memberikan alasan yang objektif (berdasarkan kenyataan/kondisi yang terjadi). Contoh:

    Atama ga itai kara, kyou wa hayaku kaeritai desu. 
    あたまいたいから、今日きょうはやかえりたいです。
    Karena (menurut aku) sakit kepala, aku ingin pulang lebih awal hari ini.


    Koutsuu ga juutai shiteita node, chikoku shite shimaimashita.
    こうつうじゅうたいしていたので、こくしてしまいました。
    Karena (faktanya) jalanan macet, aku jadi terlambat


    Ada yang mirip dengan ~から dan ~ので yaitu awalan kalimat それで (sorede). Kalau 2 pola yang diatas tadi digunakan di akhir kalimat, それで dipasang di awal kalimat ke-2 setelah titik atau koma. Meskipun sama-sama nunjukkin sebab akibat, それで punya penekanan yang lebih kuat di akibat/hasil yang ada di kalimat ke-2nya. Seakan-akan ingin nunjukkin bahwa point utama yang ingin disampaikan itu bukan alasannya melainkan akibat/hasilnya. Contohnya:

    Kinou byouki de shigoto ga dekimasen deshita. Sorede, kyou kinou no bun no shigoto o owarasenaito ikemasen.
    昨日きのう)(びょう)()()(ごと)ができませんでした。それで、今日(きょう)昨日(きのう)(ぶん)()(ごと)()わらせないといけません。
    Kemarin ga bisa kerja karena sakit. Oleh karena itu, hari ini harus menyelesaikan pekerjaan yang kemarin juga.


    Kita lanjut ya, Kalau から, ので, dan それで biasanya nunjukkin 1 alasan, kali ini ketemu sama pola akhiran ~し (shi) yang biasanya digunakan untuk menjabarkan beberapa alasan atau kondisi. Jadi dengan pola ini kalian bisa buat rentetan kalimat yang nujukkin sebab atau alasan. Pola ~し ini pun udah dipelajari di N4, dan cukup sering juga digunakan dalam keseharian. Coba kita liat contoh kalimat berikut:

    Kono resutoran wa yasui shi, oishii shi, funiki mo ii shi, yoku kimasu.
    このレストランは(やす)いし、おいしいし、(ふん)()()もいいし、よく()ます。
    Restoran ini murah, enak, suasananya bagus, jadi sering datang ke sini.


    Di kalimat ini, kita bisa liat ada 3 alasan kenapa sering datang ke restoran ini. Jadi untuk bikin rentetan alasan bisa pakai pola ~し ini ya.


    Urutan waktu, atau kegiatan

    Berikutnya kita bahas kata penghubung yang nunjukkin urutan waktu kejadian atau kegiatan. Sampai N4 harusnya ada 3 yang mirip secara arti, namun ketiganya punya perbedaan yang jelas. Pertama ada perubahan kata kerja (konjugasi kata kerja) bentuk TE. Detail dari cara mengubah ke bentuk TE mungkin aku coba bahas di lain waktu, tapi sebagai contoh perubahannya bisa liat beberapa seperti berikut:

    Kata Kerja → bentuk TE
    ()べます → ()べて
    ()きます → ()いて
    (べん)(きょう)します → (べん)(きょう)して


    Setelah kita ubah menjadi bentuk TE seperti di atas, kita bisa pakai kata kerja tersebut sebagai penghubung urutan waktu dengan kalimat berikutnya. Bentu TE bisa digunakan berkali-kali hingga ratusan pun bisa. Jadi secara teori bisa menghubungkan ratusan kalimat dengan kata kerja bentuk TE ini, tapi pada praktiknya, orang Jepang biasanya ga pake panjang-panjang. Palingan cuman dipake ngehubungin dua atau tiga kalimat, sekalipun ada yang lebih dari empat kalimat itu jarang banget sepengetahuan aku. Jadi kalau mau buat yang panjang banget aku saranin pake pola yang lain biar ga ribet. Contoh bentuk TE sebagai penghubung waktu seperti berikut:

    Bangohan o tabete, mata shousetsu o kaite, beddo ni nemasu.
    (ばん)(はん)()べて、また(しょう)(せつ)()いて、ベッドに()ます。
    Makan malam, terus lanjutin nulis novel, kemudian tidur di kasur.

    Ketika predikatnya diubah jadi bentuk TE, kalian bisa buat kalimat urutan waktu seperti di atas


    Ada yang mirip dengan bentuk TE yaitu ketika kalian tambahkan から (kara) di setelah bentuk TEnya, jadi Bentuk TE + から (~te kara). Kalau bentuk TE aja kalian cuman mengaitkan kalimat jadi urutan waktu, tapi kalau Bentuk TE + から kalian ngasih penekanan bahwa tindakan kalimat kedua hanya bisa dimulai setelah tindakan kalimat pertama selesai. Bahasa gampangnya gini "lakuin kalimat satu dulu baru kalimat dua". Contohnya:

    Kyou no shigoto o owarasetekara, douryou to nomikai ni ikimasu.
    今日(きょう)()(ごと)()わらせてから、(どう)(りょう)()()()きます。
    Selesaikan pekerjaan hari ini dulu, kemudian pergi untuk minum-minum bareng rekan kerja.


    Ada juga kata penghubung seperti それから (sorekara) yang secara fungsinya mirip. Kali ini dipakai untuk urutan waktu yang lebih lepas, seperti menambahkan poin/informasi berikutnya dalam sebuah daftar kegiatan. Mirip dengan そして (soshite), tetapi lebih sering menekankan urutan waktu. Contohnya seperti:

    Shukudai o shimasu. Sorekara, terebi o mimasu.
    宿(しゅく)(だい)をします。それから、テレビを()ます。
    Mengerjakan PR. Kemudian nonton TV.


    Kesimpulan atau mengakhiri topik pembicaraan

    Di bahasan terakhir di artikel ini, kita punya awalan kalimat kedua では (dewa) dan juga じゃ (ja). Keduanya punya fungsi yang sama yaitu memberi kesimpulan atau mengakhiri topik pembicaraan. Kalau di Indonesia では sama じゃ itu mirip seperti "baiklah", "oke kalau gitu ...", "yah ...". Sedangkan yang membedakan dari keduanya yaitu, kalau では (dewa) lebih formal, sedangkan じゃ (ja) lebih kasual jadi lebih sering digunakan ke orang yang udah akrab ya. Coba liat di contoh berikut :

    Dewa, ashita sanji ni ikimasu ne.
    では、明日(あした)3時あ()()きますね。
    Kalau begitu, besok aku pergi jam 3 ya.

    Ja, mata ashita
    じゃ、また明日(あした

    Baiklah, sampai jumpa besok


    Oke guys untuk sekarang aku coba bahas sampe sini dulu ya. Udah pada paham belum? Karena ada banyak, nanti sisanya aku coba lanjutin di artikel lain ya. Atau kalau dari kalian ada yang ingin kita bahas bareng di artikel berikutnya, bisa coba tulis di komentar ya. Biar nanti kita bahas di artikel berikutnya.

  • Belajar Bahasa Jepang

    Mitos atau Fakta: Benarkah Belajar Bahasa Jepang Harus dari Native?


     Bagi pemula yang sedang mencari cara belajar paling efektif, pasti sering mendengar berbagai 'wejangan' dari senior. Ada satu saran yang paling sering diulang-ulang, seolah-olah menjadi satu-satunya jalan pintas menuju kelancaran. Saran itu berbunyi:

    "Kalau mau lancar belajarnya harus langsung dari sensei orang Jepang asli!"
    "Untuk belajar N3 keatas lebih efektif sama orang Jepang langsung dibanding dengan orang Indonesia"

    Perdebatan yang aku sebutin tadi udah sering aku liat di kolom komentar. Masih ada atau mungkin banyak yang mengkultuskan belajar bahasa Jepang itu harus sama orang Jepang, atau ya di Jepang langsung gitu. Dan sepertinya menarik nih kita coba bahas bareng-bareng. Apakah belajar bahasa Jepang itu memang WAJIB langsusang dari nativenya? atau sebenernya ga juga? Mari kita coba bongkar bareng mitos ini.

    Kalau kalian tanya "aku (penulis) masuk tim sensei Jepang atau sensei Indonesia?" Ya jawaban aku belajar bahasa Jepangnya OTODIDAK. Jadi disini aku ngebahas diposisi netral dan biar ga terkesan berpihak sama satu sisi aja, kita coba bahas masing-masing kelebihan dan kekurangan dari belajar bahasa Jepang bareng sensei orang Indonesia dan juga sama native ya. Kalau kalian ngerasa belajar dari orang Indonesia itu hasilnya pasti ga baik, dan lebih milih belajar dari native langsung. Sebenernya aku lebih ngerasa "itu salah", tapi aku ngerti juga kenapa ada yang ngerasa lebih baik belajar dari native. Kenapa? Ada banyak yang bisa kalian dapet dan ga bisa kalian dapet kalau diajarin sama sensei orang Indonesia, begitu juga kebalikannya.

    Pertama kita coba bahas kelebihan belajar bahasa Jepang dari sensei orang Indonesia terlebih dahulu. Point pertamanya adalah sensei orang Indonesia udah ngelewatin jalan yang lagi kalian tempuh sekarang. Makanya dia lebih mengerti keluh kesalnya belajar bahasa Jepang. Mulai dari bagian susahnya dimana, sampe solusi belajarnya gimana supaya kalian ga ngerasain kesulitan yang sama dengan yang dia rasakan. Point berikutnya, dia mengerti bahasa ibu kita. Sensei orang Indonesia mengerti bahasa Indonesia, sehingga dia bisa membandingkan pola bahasa Indonesia dan bahasa Jepang, memberikan analogi yang relevan mengenai perbedaan pola kalimatnya, sehingga dapat memberikan penjelasan yang lebih mudah dipahami oleh orang Indonesia. Jadi untuk belajar dasar bahasa Jepang sangat rekomended belajar dari sensei Indonesia dari pada sama native. Point ketiganya, biaya untuk mendapatkan jasanya jauh lebih terjangkau. Ini udah jelas banget ya, belajar sama sensei native itu biayanya luar biasa loh kalau dibanding sama sensei Indonesia.

    Sekian 3 point utama kelebihan dari belajar bahasa Jepang dari sensei Indonesia. Next kita bahas kekurangannya, yang pertama kualitas pengajar yang belum merata. Aku ga ada maksud menjelekkan ya, karena memang ada banyak kok yang bagus ngajarin bahasa Jepangnya. Tapi aku mau ngasih tau kalian kenyataan pahit, bahwa masih ada sensei Indonesia yang kemampuan bahasa Jepangnya masih belum bagus, dan pengetahuannya dalam pendidikan masih sangat minim. Sehingga sensei tadi mengajar dengan cara apa adanya, dan kurang terstruktur juga akhirnya. Efeknya buat kalian pelajarnya ya malah jadi sulit paham yang berujung ga jadi-jadi nih berangkat ke Jepangnya. Jadi kalau memang mau belajar sama sensei Indonesia, bakal jadi hal penting untuk bisa selektif dalam memilih tempat atau lembaga belajarnya. 

    Ada juga yang dia ngerti bahasa Jepang dan punya ilmu pendidikan bahasa sehingga ngajarnya mudah dimengerti, tapi bahasa Jepangnya ga sefasih native. Kalau yang ini sering banget aku nemuin. Selama senseinya bisa ngejelasin bahasa Jepangnya dengan baik dan mudah dimengerti, menurut aku itu udah nilai yang bagus banget. Tapi bakal kerasa ada yang kurang selama proses belajar, contohnya kita mungkin akan sulit mendapatkan experience seperti ngobrol sama native selama proses belajar, atau senseinya mungkin akan kesulitan untuk memberikan ilmu mengenai slang atau bahasa sehari-hari yang mungkin ga keluar di buku pelajaran.

    Apakah sensei Indonesia harus fasih seperti native? Ga harus, tapi sebaiknya mendekati native. Jahat banget kalau kita berekspektasi semua sensei Indonesia harus sama dengan native yang tiap hari dari kecil udah ngobrol pake bahasa Jepang. Lagian kebanyakan orang yang bahasa Jepangnya udah fasih banget, mereka lebih milih kerja di Jepang atau mungkin di perusahaan Jepang yang ada di Indonesia, karena kalau liat penghasilannya memang lebih menggiurkan daripada jadi sensei di lembaga manapun. Kecuali kalau kalian berpendidikan tinggi dan memilih untuk jadi dosen di perguruan tinggi yang menjanjikan. Karena alasan itu ya sensei yang sangat fasih seperti native bisa jadi ga sebanyak yang kita harepin.

    Sekian kelebihan dan kekurangan belajar dengan sensei Indonesia. Terus bedanya apa kalau belajar langsung sama native? Kalau liat dari mitosnya sih "bisa lebih lancar ya prosesnya". Nah coba kita jabarin juga kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan dari belajar langsung dengan native, yaitu dia seorang native yang tiap hari menggunakan bahasa Jepang di kesehariannya. Ini berlawanan dengan kekurangan kedua dari sensei Indonesia. Dimana sensei native sejak kecil (mungkin) dia udah belajar dan mempraktekkan langsung bahasa Jepang mereka. Sehingga mereka lebih tau mengenai slang atau bahasa sehari-hari yang ga selalu tertulis di buku pelajaran. Dan yang terpenting mereka punya aksen native sehingga jadi kelebihan yang besar untuk berlatih chokai (listening) dan kaiwa (conversation). Alasan ini juga yang jadi asal muasal mitos "belajar dari native akan lebih lancar". Mitos ini ga salah, tapi aku mau coba sangkal dikit dengan menceritakan sisi negatif belajar sama native.

    Sensei Native yang bisa bahasa ibu kita, masih sangat langka. Secara jumlah malah jauh lebih langka daripada sensei Indonesia yang jago ngajar. Sehingga terkadang bakal ketemu momen ketika mereka kesulitan dalam mengajarkan bahasa Jepang. Biasanya sih ketika diajarin pake cara mereka dan pelajarnya belum ngerti, karena ga ngerti bahasa ibu kita, mereka suka jadi kesulitan jelasin lebih detailnya gimana. Balik lagi, memang ga semua sensei native gini, ada banyak juga kok bagus ngajarnya. Kasusnya beda kalau kita atau pelajarnya udah N4 atau bahkan N3, kayanya kasus mereka kebingungan ngajar kayanya udah sangat jarang, karena kita udah cukup mengerti bahasa Jepang. Tentu kalian ga akan ketemu masalah ini kalau kalian jago banget bahasa Inggrisnya, karena kebanyakan sensei native di Jepang itu setidaknya punya bekal bahasa Inggris yang cukup atau mungkin ada yang jago (ga semua tapi ya). 

    Kekurangan kedua dan terakhirnya adalah kebanyakan native itu berbicaranya kurang terstruktur, atau ga sesuai dengan ilmu lingustik bahasa Jepang. Sering banget kan ketika ngobrol sama orang Jepang mereka ngomongnya ga sesuai dengan yang di buku? Karena memang yang namanya native, biasanya ngobrolnya secara naluriah atau ga bedasarkan yang tidak dipelajari, tapi berdasarkan bawaan dari kebiasaan. Alhasil bahasa Jepang native itu cenderung ga sesuai dengan pola kalimat yang sesungguhnya. Dan ini ga berlaku khusus native Jepang, contoh kita sebagai native Indonesia pun sama kan? Coba ngaku di sini siapa yang bahasa Indonesianya masih suka remedial? 

    Berarti bagus dong kalau berdasarkan naluriah? Jadi yang dipelajari itu bahasa Jepang yang digunakan sehari-hari.

    Okay, aku udah bosen liat komentar gini. Ini statement bagus tapi aku kurang setuju. Kalau kalian maunya cuman yang penting bisa survive di Jepang, mungkin statement tadi bisa kalian anggap benar. Tapi percaya lah, orang Jepang itu sehari-harinya memang acak-acakan ngomongnya, tapi ketika udah urusan kerjaan yang butuh skill bahasa yang tinggi, mereka sangat serius milih-milih kata dan tata bahasa. Dan di antara orang Jepang pun banyak yang masih kesulitan memilah kata dan tata bahasa. Jadi kalau kalian belajarnya dari native, berharaplah sensei kalian itu mengerti dan bisa mengajarkan bagian ini.

    Kesimpulannya apa nih? Apakah belajar langsung dari native itu belajarnya akan lebih lancar? Menurut aku ENGGA untuk level pemula, tapi sangat benar ketika kalian udah masuk level menengah seperti N3 yang mau lanjut sampe N1. Karena di level ini, peran native akan sangat membantu kalian untuk melancarkan penggunaan bahasa Jepang yang udah kalian pelajari sama sensei Indonesia. Kalau belum sampai level ini, aku saranin belajar dulu dasar-dasarnya sama sensei Indonesia. Kalau ragu belajar sama sensei Indonesia, muncul lah pilihan ketiga untuk belajar OTODIDAK, dimana belajarnya bisa menyesuaikan dengan cara belajar sendiri. Supaya nantinya ketika belajar sama native kalian udah mengerti dulu sama bahasa yang mereka gunakan. 

    Itu pendapat saya, tapi aku yakin kalian mungkin punya pendapat-pendapatnya masing-masing, jadi yang punya pendapat yang berbeda atau mungkin kurang setuju dengan apa yang aku sebutin tadi, coba tulis di kolom komentar ya. Atau kalau dari kalian ada bahasan menarik yang ingin kita bahas bareng, coba tulis juga di kolom komentar ya. Kita ketemu lagi di bahasan berikutnya.

  • Belajar Bahasa Jepang

    Kenapa kosakata bhs Jepang susah banget nempel di kepala?

    ‘Kak, kenapa sih kosakata bhs Jepang tuh susah banget nempel di kepala? Padahal aku udah hafalin tiap hari, tapi tetep aja gampang lupa lagi.’

    Buat kamu yg lagi belajar bahasa Jepang pasti pernah ngerasa relate dengan pertanyaan tadi. Aku yakin bukan kamu aja kok yg ngerasain gitu. Aku aja dulu ngerasain susah banget buat ngehafalin kosakata bahasa Jepang. Udah ngafalin kosakata BAB 1 waktu belajar kosakata BAB 2 dan BAB 3, eh kosakata BAB 1nya malah lupa.

    Mulai lah muncul pertanyaan "kenapa ya kosakata yang udah dihafal susah banget nempel di kepala?". Dari pengalaman aku, menurut aku sih salah satu alasannya adalah karena cara hafalannya yg terlalu pasif. Misalnya, kamu cuma baca daftar kosakata berulang-ulang tanpa benar-benar mengerti apa maksud dan penggunaan dari kosakatanya. Jadi kalian cuman melihat kosakata sebagai hafalan, tanpa mengerti setelah hafal terus bakal jadi apa. 

    Faktor lainnya, yaitu kurangnya mengulang atau digunakan dalam keseharian juga bikin hafalan kamu cepat hilang. Banyak orang hafal banyak kosakata dalam satu hari, tapi gak pernah diulang lagi, terus ga dipake juga dalam keseharian mereka. Padahal otak manusia butuh diingetin berkali-kali sebelum informasi benar-benar tersimpan di memori jangka panjang mereka.

     Ada juga faktor kurang fokus, kurang motivasi atau ga dibawa enjoy proses belajarnya. Memang ga bisa dipungkiri, belajar bahasa asing itu ga singat dan butuh waktu. Apalagi dalam bahasa Jepang ada 3 jenis huruf, dimana salah satunya yaitu "kanji" jumlahnya sangat banyak. Jadi PRnya lebih banyak untuk belajar bahasa Jepang. Makanya kalau ga bisa fokus ke tujuan, apalagi ga bisa jaga motivasi belajarnya, ga jarang kalian bakal ngerasa kesulitan menghafal kosakata dan kanji. Jadi ga perlu terlalu dipikirin dan dibawa enjoy aja proses belajarnya biar bisa step by step menuju tujuan kalian.

    Terus gimana dong solusinya? Nah, kabar baiknya, semua itu bisa diatasi!

    Pertama, buat kamus personal dan pindahkan semua kosakata yang kalian udah kenal ke kamus personal kalian. Terdengar sepele tapi sebenernya ga sesimple itu loh. Bayangin hanya dengan memindahkan kosakata baru ke kamus personal, kalian udah lewatin beberapa proses yang akan membantu mengingat kosakata. Proses yang aku maksud setidaknya seperti membaca kosakata baru, memindahkan atau menulis ulang, dan membaca ulang apa yang kalian tulis. Selain itu kalau ada kamus personal, kalian punya record jalan belajar kalian, dan ini bisa membuat kalian ngerasa termotivasi kembali, dan merasa senang setelah liat jalan belajar kalian selama ini.

    Selain dimasukan ke kamus personal, kosakata baru tadi coba kalian gunakan di dalam latihan kalimat atau percakapan. Ini juga terdengar sepele tapi sebenernya efektif banget loh. Karena kalau kita ngafalin tapi ga kita pake, setidaknya kita cuman melihat kosakata tadi sebagai hafalan, dan ini fatal loh soalnya kalian jadi cuman hafal aja tapi ga jadi apa-apa. Makanya ketika tiba waktunya harus dipakai, kalian malah harus menggali memori otak kalian. Padahal kalau kalian terbiasa menggunakannya kosakatanya, kosakata tadi udah bagaikan sesuatu yang kita ga perlu mikir untuk mengunakannya. Sama halnya kita ngobrol tiap hari pake bahasa Indonesia.

    Jadi, tiap nemu kosakata baru, sekali-kali dipake ya minimal waktu latihan bikin kalimat. Contoh, waktu kamu baru belajar kosakata 食べます (tabemasu), coba bikin kalimat yg bakal kamu pakai di kehidupan sehari-hari kaya:

    Kazoku to asagohan wo tabemasu
    ()(ぞく)(あさ)(はん)()べます
    Makan sarapan bersama keluarga

    Kalimat yang udah kalian buat, jangan lupa di baca dengan lantang ya meskipun cuma ngomong sendiri. Dengan gitu, otak kamu bakal ngaitin kosakata yg baru kamu pelajari tadi dengan makna atau gambaran di kehidupan nyatanya, jadi hafalan baru tadi ga akan hanya sebatas hafalan aja.

    Berikutnya, coba belajar dengan cara yg menyenangkan. Sekali lagi ini terdengar sepele tapi banyak orang yang cepet belajar bahasa Jepangnya karena mereka menikmati prosesnya. Setidaknya mereka tidak ngerasa tertekan atau ngerasa belajar bahasa Jepang itu musingin aja dan ga ada asik-asiknya. Jadi mereka yang belajarnya suka sambil dengerin lagu-lagu Jepang, nontonin anime atau drama Jepang, bacain manga yang raw, sampe mainin game pake suara dan text Jepang itu orang-orang yang menikmati proses belajar mereka. Karena bisa belajar sambil menyenangkan diri sendiri dalam waktu yang bersamaan. 

    Selain itu, dengan memanfaatkan media-media yang tadi aku sebutin kalian akan terbiasa mendengarkan orang Jepang bicaranya seperti apa. Otomatis skill listening atau mendengar kalian akan terlatih. Setiap ngedengerin kosakata yang kalian tau, bisa sambil inget-inget artinya apa. Malahan kalian bisa nemu kosakata baru sambil seneng-seneng. Kemudian suatu saat ketika kalian udah makin bisa bahasa Jepang, kalian yang suka manfaatin media tadi akan jadi orang yang sadar atas proses belajar mereka. Semakin jago bahasa Jepangnya akan semakin engga butuh subtitle kan ya? 

    Jangan lupa paksa diri sendiri untuk menggunakan bahasa Jepangnya, contohnya ubah bahasa device kalian menjadi bahasa Jepang. Ya bayangin aja kalau HP kalian pake bahasa Jepang, mau ga mau kalian bakal cari tau kanji dan kosakata yang nampil di HPnya kan? Kalau dibiarin ga tau artinya kalian malah makin pusing make HP sendiri juga. Idealnya memang langsung tinggal longstay di Jepang ya. Tapi kan bisa jadi ga semuanya punya kesempatan yang sama. Makanya bisa dimulai paksa pake bahasa Jepang dari lingkungan sendiri dulu. 

    Jadi, kalau hafalan kosakata kalian sering hilang entah kemana, bukan berarti kamu gak cocok belajar bahasa Jepang. Mungkin cuma perlu ubah cara belajarnya aja. Ga perlu buru-buru pengen hafal banyak sekaligus, tapi kenali dan sesuaikan dengan pace diri sendiri. Bagaimana dengan pembahasan kali ini? Kalau kalian punya cara sendiri buat belajar kosakata coba sharing-sharing juga di kolom komentar ya. Siapa tau ada yang mau nyontek cara belajar kalian. Dan kalau ada sesuatu yang ingin kita bahas di konten berikutnya juga silahkan tulis di kolom komentar ya. Sampai jumpa di konten berikutnya, dan jangan lupa dipake terus bahasa Jepang yang udah dipelajari ya!

  • Belajar Bahasa Jepang

    Kenali Gaya Belajar Kalian Supaya Mudah Memahami Bahasa Jepang

    Siapa yang bilang teori cara belajar itu ga berguna? Aku selama ini belajar tanpa disadari menggunakan gaya atau pendekatan belajar. Ya dalam kasus aku sih, kebetulan aku langsung nemu cara belajar yang memang cocok sama aku. Jadi kosakata, pola kalimat, ataupun kanji yang aku pelajari bisa langsung nempel di otak. Tapi ternyata ga semua orang memahami pendekatan atau gaya belajar yang aku maksud tadi loh. Tau sih tapi kayanya ga sepaham itu jadi engga digunakan dalam proses belajarnya. So aku mau coba bahas 3 gaya belajar yang umum dan kita coba kaitkan dengan belajar bahasa Jepang. Semoga yang baca sampe beres bisa tau dan menggunakan cara belajar bahasa Jepang yang cocok buat kalian.

    Selama kalian sekolah pasti pernah diajarin tentang gaya belajar atau learning styles. Istilah gaya belajar bisa kalian temukan di dalam bidang psikologi dan pendidikan. Secara umum, ada 3 jenis utama yang paling sering dibahas. Iya ada 3 loh, jadi kalau seorang guru bilang semua orang pasti bisa mudah paham dengan cara belajar yang sama, sebenernya statement itu kurang tepat ya. Makanya jangan aneh kalau ada yang kurang bisa ngikutin pelajaran kalau belajar bahasa Jepangnya di sekolah, kampus atau mungkin di lembaga. Karena mereka cara belajarnya fokus dengan cara mereka sendiri atau ya punya silabus mereka sendiri ya.

    Di J-class pun aku ga bosen-bosen untuk menyebarkan cara belajar bahasa Jepang yang OTODIDAK. Karena OTODIDAK itu lebih fleksibel menyesuaikan gaya belajar yang cocok buat kalian. Kalian bisa coba-coba cara belajar orang, tapi kalau ga cocok bisa kalian ubah-uban dan disesuaikan biar lebih cocok buat kalian. Nah aku mau coba jelasin lebih detil tentang 3 jenis utama gaya belajar yang paling sering dibahas ya. Semoga jadi referensi buat kalian menyesuaikan cara belajar OTODIDAK kalian.

    Gaya Belajar Visual (Penglihatan)

    Kalian yang cocok dengan gaya belajar visual biasanya lebih mudah memahami dan mengingat informasi yang disajikan dalam bentuk visual. Contohnya kalian biasanya lebih mudah paham ketika liat informasi berupa grafik, diagram, peta konsep, simbol, video, presentasi slide, dan semacamnya. Malah temen aku yang pake gaya belajar visual catatan di buku dia penuh dengan highlight atau spidol warna-warni buat nandain mana yang penting.

    Nah kalian yang tipe belajar visual, sebenernya gampang banget buat belajar bahasa Jepang, terutama ketika belajar Kanji ya. Kalian bisa gunakan flashcard seperti kana card, dan kanji card buat belajar tulisan Jepang. Apalagi kalau kana card sama kanji cardnya ada ilustrasi yang membantu kalian menghafal bentuknya. Jangan remehkan juga subtitle di media yang kalian tonton loh. 

    Kalian nonton anime, drama, variety show, dan semacamnya jangan lupa tampilin subtitlenya, karena tipe visual akan mendengar bahasa Jepang yang diomongin sambil melihat subtitle berupa arti dari yang diucapin di videonya. Kalau perlu cari buku cerita dalam bahasa Jepang, atau artikel-artikel bahasa Jepang buat terbiasa melihat, dan membaca tulisan Jepang.

    Nah yang ga kalah penting adalah mengganti pengaturan bahasa di gadget kalian menjadi bahasa Jepang. Serius! Menurut aku yang ini paling penting. Karena kita akan dipaksa menggunakan, melihat, dan memahami tulisan yang ada di gadget kita. Jadi kita akan sangat cepat menyerap informasi bentuk kanji beserta maksud dari kanji-kanji di gadget kita. Kalau ketemu kanji yang ga paham, otomatis cari tau kan? Masa dibiarin ga tau, nanti malah makin pusing loh kalau ga tau kanjinya.

    Gaya Belajar Auditorial (Pendengaran)

    Gaya belajar auditorial mengandalkan indera pendengaran untuk menyerap informasi. Umumnya akan lebih mudah memahami informasi lewat diskusi, debat, ceramah, podcast, rekaman audio, membaca materi dengan suara lantang, mengulangi informasi yang baru didengar, dan semacamnya. Ini tipe-tipe kalian yang seringkali bisa mengingat lirik lagu atau dialog film dengan sangat baik.

    Waktu belajar bahasa Jepang kalian mungkin lebih mudah hafal kosakata-kosakata yang muncul di lagu-lagu Jepang, jadi banyak-banyak denger lagu Jepang ya supaya telinganya bisa terbiasa sekalian nambahin kosakata baru lewat lagunya. Jangan hanya dengerin, tapi sambil dinyanyikan atau minimal diucap ulang kosakatanya ya. Selain itu dengerin juga podcast bahasa Jepang ya. Sekarang di youtube juga udah cukup banyak kok, jadi harusnya sih udah ga susah nyarinya. Tinggal cari yang suka bahas hal yang kalian sukain. 

    Bukan hanya didengerin ya, tapi diulangin dengan suara lantang. Karena kalau diulangin kalian bisa membiasakan berbicara, sekaligus memastikan penglafalan kalian udah bener atau belum. Mau kan dikatain Nihongo ga jouzu desu ne (bahasa Jepangnya jago ya) sama orang Jepang? Nah tipe yang auditorial biasanya ingin punya teman bicara juga. Dulu suka sulit cari temen yang mau diajak bicara bahasa Jepang, sekarang kalau ga punya temen bisa pake AI buat ngobrol bahasa Jepang. Contohnya bisa pake Mazii AI guys. 

    Gaya Belajar Kinestetik (Pengalaman/Praktik)

    Orang dengan gaya kinestetik itu si paling praktek, soalnya mereka belajarnya paling efektif lewat pengalaman dan praktik langsung. Biasanya tipe orang yang bisa paham setelah nyobain dan ngerasain sendiri apa yang dia pelajari. Seperti melakukan eksperimen, bermain peran, pelajarannya langsung dipake di kehidupan, menggunakan model atau alat peraga, dan semacamnya.

    Biasanya kalian harus dipraktekkan baru bisa paham dan ingat, makanya waktu belajar kosakata baru kalian harus langsung dipakai buat latihan kalimat yang menggunakan kosakata tersebut. Ini berlaku juga buat kanji, jadi kalau ngetik atau nulis langsung dipake ya kanjinya. Kalau ngomongin belajar bahasa Jepang, sebenernya tipe belajar kinestetik itu cukup dipake terus-terusan juga bakal inget dan ga akan lupa. Tapi kebanyakan dari yang tipe ini, mereka gampang lupa ketika udah ga dipake dikesehariannya. 

    Idealnya, yang cocok pake gaya belajar kinestetik itu berada di lingkungan yang dipaksa untuk menggunakan ilmu yang udah dipelajarinya. Makanya kalian yang kinestetik kalau udah hidup longstay di Jepang perkembangan skill bahasa Jepangnya akan lebih meroket daripada yang bukan kinestetik. Tapi karena kebanyakan dari kalian mungkin saat ini belum tinggal di Jepang, jadi alternatifnya coba pakai terus bahasa Jepang dalam berbagai macam kegiatan kalian. 

    Selain bahasa di gadget kalian diubah ke bahasa Jepang, cobalah ubah hiburan kalian jadi sesuatu yang menggunakan bahasa Jepang. Contoh nontonin anime dan drama jangan yang dubbing tapi pake yang bahasa Jepang, bahkan main game pun ubah bahasanya ke bahasa Jepang. Paksain diri sendiri buat pake bahasa Jepangnya terus menerus biar kita terus make bahasa Jepang yang udah dipelajari. Sama dengan yang auditorial, kalian bisa manfaatin AI seperti Mazii AI untuk ngobrol bahasa Jepang kalau kebetulan ga ada temen yang bisa diajak ngobrol bahasa Jepang.

    Balik lagi ke statement awal aku, setiap orang memang punya gaya belajarnya masing-masing. Setau aku setiap orang punya gaya yang dominan setidaknya 1 atau 2 dari 3 gaya belajar yang tadi aku bahas. Jadi bukan berarti yang cocok visual ga akan cocok belajar cara auditorial ya. Tapi coba fokuskan gaya dominan kalian kemudian kombinasikan dengan yang gaya lainnya supaya proses belajarnya ga hanya jalan disatu bagian. 

    So, untuk kalian yang belum tau gaya belajar yang cocok, silahkan coba-coba ya mana yang kira-kira cocok buat kalian. Yang udah tau silahkan coba belajarnya disesuaikan dengan gaya yang cocoknya ya. Soalnya kenal sama gaya belajar ini bisa sangat membantu kalian dalam menentukan cara belajar yang paling efisien untuk diri sendiri. Gimana nih bahasan kali ini? Kali ini aku lebih sharing hal yang mungkin kebanyakan dari kalian udah tau, tapi bisa jadi ga sadar aja selama ini kalian menggunakan gaya belajar untuk mempelajari sesuatu. Nah aku coba ingetin lagi ya yang udah lupa. Kalau udah mulai inget gaya belajar kalian, coba tulis di kolom komentar dong gaya belajar kalian yang mana? Coba tuliskan juga cara kalian belajarnya ya siapa tau ada yang mau nyontek cara belajar kalian.

  • Belajar Bahasa Jepang

    Partikel の bukan hanya menggabungkan kata benda? nih macam-macam fungsinya !


     Partikel oh partikel, kita lanjutin belajar partikelnya yuk. Partikel dalam bahasa Jepang terbilang cukup banyak, dan beberapa partikel punya fungsi lebih dari satu. Setelah denger ini, kebanyakan orang pasti bakal ngerasa "berarti bahasa Jepang itu susah donk kak?!". Inget guys, sesuatu yang kita anggap susah itu pada dasarnya kita belum tau caranya aja. Ini berlaku juga sama partikel bahasa Jepang. Kalau udah tau caranya ya kalian juga bisa buat kalimat tanpa mikir panjang ya. 

    Oke kali ini aku mau coba bahas salah satu partikel yaitu partikel の (no). Partikel ini udah dipelajari dari bab 1 minna no nihongo, dan fun factnya ternyata partikel の (no) memiliki beberapa fungsi tergantung konteks kalimatnya ya. Nah seperti apa itu kita coba bahas satu persatu yuk.

    1. Kata Gabungan KB + KB 

    Ini adalah fungsi partikel の (no) yang paling dasar dan juga paling pertama dipelajari di buku Minna no Nihongo. Sayangnya masih banyak yang masih kurang paham nih maksud dari menggabungkan KB + KB itu sebenarnya gimana maksudnya? 

    Jadi berbeda dengan kalimat, dimana kalimat itu setidaknya terdiri dari "Subjek" dan "Predikat" atau setidaknya ada yang topik pembicaraan, dan ada penjelasan dari topiknya. Nah Kata Gabungan itu berbeda, di KBBI kata gabungan diartikan "penyusunan dua kata atau lebih yang membentuk makna baru". Dengan katal ain ada dua atau lebih bergabung jadi satu kata gabungan dan kata gabungan ini punya makna yang baru atau berbeda dari kata-kata pembentuknya. Ya biasanya maknanya masih nyambung atau berkaitan sama kata-kata pembentuknya sih.

    Nah kalau dalam bahasa Indonesia kata gabungan itu biasanya ga perlu partikel, seperti kata majemuk "rumah sakit", "meja makan", "tanda tangan", dll. Nah dalam bahasa Jepang itu biasanya ada cara sendiri dalam membuat kata gabungan. Nah partikel の (no) yang kita bahas ini biasanya digunakan untuk menggabungkan dua atau lebih kata benda menjadi satu kata gabungan. 

    Cara untuk membentuk kata gabungan KB + KB itu simple, seperti :

    1. Mau menggabungkan : KB1 + KB2  
    2. Kita balikkan urutannya dulu jadi : KB2 + KB1
    3. Setelah itu selipkan partikel の diantaranya : KB2の KB1

    Contoh : 

    1. Buku komputer → komputer buku → komputerのbuku → コンピューターの(ほん)
    2. Rumah temannya Manda → Manda temannya rumah → Mandaのtemannyaのrumah → マンダさんの(とも)(だち)(いえ)

    Sebenernya kita perlu tau juga ada kosakata dalam bahasa Jepangnya atau engga ada. Maksud aku gini loh, kan di Indonesia ada kata gabungan "rumah sakit" ya, nah dalam bahasa Jepang itu ada kosakata rumah sakit yaitu (びょう)(いん) (byouin). Jadi dalam bahasa Jepang udah bukan kata gabungan, tapi memang satu kosakata yang merdeka. Kalau ga tau di Jepang ada kosakata (びょう)(いん) (byouin) kita bisa jadi mengartikan rumah sakit jadi (びょう)()(いえ) (byouki no ie) kan ya, dan ini salah. Jadi perluas terus kosakatanya ya biar ga terjadi kesalahan seperti yang tadi. 

    Nah terus yang seperti apa aja sih yang biasanya jadi kata gabungan KB + KB? 

    Aku coba jabarin ya. Biasanya dipake di 5 kondisi dibawah, tapi bisa jadi ada juga kondisi lain yang mungkin ga ke mention sama aku. Kalau kalian nemu kondisi lain coba tulis di kolom komentar biar kita semua belajar bareng-bareng ya. 

    1.1 Menyatakan kepemilikan (AのB = B milih A)

    Ini fungsi yang paling dasar dan sering digunakan, dimana menunjukkan kepemilikan, di bahasa Indonesia mirip dengan "punya" atau mungkin "milik". Contohnya :

    - (わたし)(ほん) (watashi no hon) = Buku saya
    - (せん)(せい)(くるま) (sensei no kuruma) = Mobil guru

    1.2 Menjelaskan Hubungan atau Kategori (AのB = B tentang A)

    Kali ini menghubungkan dua kata benda untuk menjelaskan kategori, bahan, atau topik dari KB yang ke-duanya. Contohnya :

    - ()(ほん)()(ほん) (Nihongo no hon) = Buku tentang bahasa Jepang
    - ()椅子(いす) (ki no isu) = Kursi dari kayu

    1.3 Menyatakan Identitas (AのB = A yang adalah B)

    Digunakan saat A dan B merujuk pada hal yang sama (mirip dengan "yaitu" kalau di bahasa Indonesia). Contohnya :

    - (とも)(だち)()(なか)さん (Tomodachi no Tanaka-san) = Teman saya, Tanaka
    - (しゃ)(ちょう)(やま)()() (Shachō no Yamada-shi) = Direktur, Yamada

    1.4 Menggantikan Kata Benda yang Sudah Jelas

    Yang ini berdiri sendiri untuk menggantikan kata benda yang sudah diketahui lawan bicara. Jadi kalau udah tau kita lagi ngomongin benda A, ya kita ga perlu dikit-dikit sebutin lagi benda A. Contohnya :

    - その(あか)いのが()しい。 (Sono akai no ga hoshii.) = Saya mau yang merah itu.
    - (わたし)のはこれです。 (Watashi no wa kore desu.) = Punya saya yang ini.

    1.5 Subjek dalam Klausa Relatif (AのB = A yang melakukan B)

    Dalam kalimat kompleks, 「の」 bisa menggantikan partikel 「が」 untuk menunjukkan subjek dalam klausa penjelas / informasi tambahan dalam kalimat. Contohnya :

    - (はは)(つく)ったケーキ (Haha no tsukutta kēki) = Kue yang dibuat ibu
    - (わたし)()きな(えい)() (Watashi no sukina eiga) = Film yang saya suka

    Bandingkan dengan :

    - (はは)(つく)ったケーキ (Haha ga tsukutta kēki) → Makna sama, tapi lebih formal.


    2. Pola untuk Penekanan atau Penjelasan (~のです)

    Kalian mungkin sering liat ada の di sebelum です ya. Nah pola ~のです (~no desu) atau dalam percakapan sering terdengar ~んです (~n desu) ini berfungsi untuk menegaskan sesuatu atau menyampaikan alasan dengan jelas, terutama penegasan ketika ingin menjelaskan alasan di balik sesuatu. Secara arti sebenarnya ga berubah sama sekali, tapi kita nambahin penekanan atau menegaskan sesuatu di kalimat tersebut. Pola ini pun temasuk formal ya guys, jadi digunakan ke orang yang derajat lebih tinggi atau yang lebih tua juga aman, kalau mau lebih santai bisa pake yang ~んです. Contoh kalimatnya seperti :

    Kinou kara zutto zangyoushite, tsukareta no desu.
    きのうからずっと(ざん)(ぎょう)して、(つか)れたのです。
    Dari kemarin aku selalu lembur, aku cape loh.

    Kimi no koto nante shiranai n desu.
    (きみ)のことなんて()らないんです。
    Aku tidak tahu apa-apa tentang kamu.


    3. Kalimat dengan akhiran ~の (no) atau ~なの (nano)

    Sekarang masuk ke bahasa perempuan dengan nuansanya yang casual sehingga pola ini sering banget digunakan dalam keseharian. Bahkan kalau kalian nonton di anime atau drama mungkin udah ga asing denger tokohnya yang ngomong terus akhirannya ada の (no). Kalau tadi ada の di sebelum です, sekarang のnya ada di akhir kalimat. Balik lagi pola ini pun ga beda jauh dengan yang sebelumnya, tapi kali ini nambahin kesan berbeda dalam percakapan. Paling sering digunakan saat bertanya, tapi sebenernya secara garis besar nambahin の (no) di akhir kalimat akan nambahin makna-makna atau kesan meliputi: pertanyaan, emosi, simpati, konfirmasi, dan penegasan yang lemah. Contohnya :

    Saikin doko e itte ta no?
    (さい)(きん)どこへ()ってたの?
    Akhir-akhir ini pergi ke mana?

    Uso kinou no jugyou wa yasumi datta no?
    うそ?!昨日(きのう)(じゅ)(ぎょう)(やす)みだったの?
    Masa sih?! Kelas kemarin libur ya?


    Kita pun bisa nambahin partikel tambahan seperti ~ね untuk memperjelas sedang bersimpati, mengkonfirmasi atau meminta sesuatu. Bisa juga tambahkan ~よ untuk memperjelas sedang memberi tau hal yang ga diketahui lawan atau ketika menyuruh orang lain.

    Kono kuma no nuigurumi ga ii no ne?
    この(くま)のぬいぐるみがいいのね?
    Boneka beruang ini aja kan ya?

    Hayaku ikanai to ma ni awanai no yo
    (はや)()かないと()()わないのよ。
    Kalau ga cepat cepat nanti ga akan keburu loh.


    Gimana pembahasan partikel kali ini? Partikel の (no) ibarat "lem" yang menyambungkan kata-kata dalam bahasa Jepang. Semakin sering berlatih, semakin alami penggunaannya! So jangan lupa terus latihan ya biar terbiasa kapan pake の atau ga perlu pake のnya. Banyak denger native menggunakan partikel の di anime/drama juga bisa, nanti tinggal ditirukan aja biar makin terbiasa makenya. Kalau ada tambahan yang mungkin belum ke mention mengenai partikel の boleh bantu tulis di komentar ya guys. Atau kalau ada yang ingin dibahas lagi coba tulis dikomentar juga, siapa tau kita bakal bahas kedepannya.

J-Class, pernah diliput di :