Belajar
5 Kebiasaan Kecil Orang Jepang yang Bikin Kamu Cepat ke Jepang
Pernah nggak sih kamu mikir, kok bisa ya orang Jepang itu hidupnya tertata banget, panjang umur, dan kerjanya efisien? Mulai bandingin sama kehidupan diri sendiri yang mungkin ga sesuai dengan harapan kalian. Masih kesulitan menata hidup sendiri, masih kesulitan buat efisien juga. Rahasianya bukan karena mereka punya kekuatan super, tapi karena 8 kebiasaan kecil yang disebut Tiny Japanese Habits yang dimiliki oleh orang Jepang. Kali ini aku mau bahas micro habits ini yang bisa kita pakai supaya bisa cepet berangkat ke Jepang. So, baca sampai beres ya.
Udah bosen mungkin dengerin aku cerita tentang orang-orang yang gagal atau ga berangkat-berangkat ke Jepang. Karena secara jumlah memang banyak guys mereka yang udah masuk lembaga supaya bisa berangkat ke Jepang, tapi ujung-ujungnya ga berangkat-berangkat. Dari yang terjebak sama jebakan lembaganya, sampai yang stuck belajar bahasa Jepangnya, ada macem-macem alasan gagal berangkatnya. Apakah kalian salah satunya? Semoga engga ya. Nah, buat kamu yang lagi berjuang belajar bahasa Jepang atau lagi nunggu jadwal terbang, Aku sudah pilihin 5 poin paling penting dari "8 Tiny Japanese Habits" yang bisa kamu contoh biar proses belajarmu nggak berasa beban, dan bisa membantu proses belajar bahasa Jepang kalian.
Kaizen: Jangan Ngebet Mau Langsung Jago!
Banyak banget dari kalian yang baru mulai belajar, langsung pengen hafal 2000 Kanji dalam semalam. Akhirnya apa? Ga masuk semua? Burnout terus menyerah? Atau ada lagi yang mau nambahin dari pengalaman kalian? Kalian bisa coba pakai prinsip Kaizen, dimana kuncinya adalah 1% lebih baik setiap hari. Daripada maksain belajar 5 jam sehari, tapi cuma seminggu sekali belajarnya. Mending belajar 15 menit tapi tiap hari tanpa absen, dan konsistensi kecil ini kalau dikumpulin bakal jadi ledakan progres yang gila banget! Konsisten nambahin kosakata baru tiap hari, sambil ngulang-ngulang yang udah dipelajari. Sekalipun ga banyak yang ditambahin, tapi coba konsistenkan tiap hari. Kalian mungkin ga sadar step kecil yang kalian lakukan tiap hari ternyata udah sejauh ini. Jadi kunci pertama adalah konsisten berkembang tiap hari ya guys.
Ikigai: Cari Alasan Kuat Kenapa Kamu Mau ke Jepang
Orang Jepang punya konsep yang disebut Ikigai. Ya kalau aku jelasiin ini cukup rumit, tapi penjelasan gampangnya sih ikigai itu alasan yang bikin mereka semangat bangun pagi. Coba tanya diri sendiri, kenapa kamu mau kerja ke Jepang? Apa cuma ikut-ikutan? Apa buat bantu ekonomi keluarga? Atau pengen nabung buat modal usaha di Indo? Kalian suka ga sama apa yang akan kalian lakukan nanti? Kalian sekarang lagi belajar bahasa Jepang, setelah bisa bahasa Jepang terus apa? Udah mulai kerja di Jepang, kalian bisa mencintai pekerjaan kalian di sana ga? Banyak banget pertanyaannya ya Hhe.
Tapi bener guys, Ikigai itu kita mengaitkan 4 point yaitu "apa yang kita cintai?", "apa yang kita bisa/mahir?", "apa yang dibutuhkan dunia/masyarakat?", setelah itu kita tanya "dari point tadi apakah bisa menghasilkan atau bisa menghidupi diri sendiri dan keluarga?" Jadi kalau kalian bisa mengaitkan itu semua dengan bahasa Jepang dan bekerja di Jepang, harusnya kalian udah punya jalur ikigai kalian. Nah pertanyaannya alasanmu kuat ga? Kalau kuat sih nanti waktu pusing ketemu materi konjugasi kata kerja, kamu nggak bakal gampang nyerah karena kamu tahu tujuan akhirmu apa.
Hara Hachi Bu: Makan Secukupnya, Belajar Secukupnya
Berikutnya di Jepang ada istilah Hara Hachi Bu, artinya berhenti makan sebelum kenyang (sekitar 80% saja). Coba kita modifikasi ke dalam gaya belajar bahasa Jepang. Kalian yang biasa "makan" semua materi sampai kenyang banget, cape, dan ngerasa tersiksa. Coba mulai untuk "makan" materinya ga sekaligus, tapi dimanage biar ga menyiksa diri sendiri. Coba berhenti "makan"nya pas kamu lagi ngerasa "enak-enaknya" belajar, supaya besoknya kamu masih punya rasa penasaran buat lanjut lagi. Ini rahasia biar belajar nggak berasa kayak siksaan. Yang ini mirip sama yang point kaizen ya.
Wabi-sabi: Cintai Proses "Blepotan"-mu
Ini yang beda banget sama apa yang sering diajarin sama banyak sekolah di Indonesia. Sering nggak sih kamu takut ngomong bahasa Jepang karena takut salah partikel atau takut aksennya nggak mirip native? Udah ngerasa takut, ujung-ujungnya ga berani ngomong atau takut untuk mencoba. Di sinilah filosofi Wabi-sabi berperan untuk mengajarkan kita menghargai ketidaksempurnaan.
Kita masih belajar kan? Gak apa-apa diawal ngomongnya masih belepotan, yang penting kamu berani coba. Orang yang udah N2 juga terkadang ada yang ngomongnya masih belepotan. Masa yang masih belajar harus bagus ngomongnya? Turunkan ekspektasimu, dan nikmati proses belajarnya. Ga apa-apa salah, justru coba ambil apa yang bisa kamu pelajari dari kesalahan. Terkadang kesalahan atau kegagalan itu guru yang lebih baik daripada guru manapun. Waktu latihan bikin kalimat terus lupa kosakatanya, kalian boleh nyontek-nyontek kamus kalian kok. Contoh lain, di awal-awal belajar hiragana dan katakana pun kalian sambil nyontek-nyontek kan ya. Tapi proses "lupa → nyontek → ingat lagi" ini kalau diulang lama-lama inget kok. Saat ini belum sempurna, tapi kalau kita terus berusaha berkembang, cepat lambat kita akan mendekati kesempurnaan. Jadi jangan ngerasa minder atau galau kalau saat ini belum bisa ya.
Gaman: Daya Tahan Mental "Baja"
Gaman itu artinya sabar, tahan, bertahan, dll. Tapi dalam kasus ini ayo kita artikan sabar dan bertahan. Proses belajar bahasa sampai nanti kalian hidup di Jepang itu pasti ada tantangannya. Pasti ada saatnya kamu ngerasa jenuh, atau stuck saat belajar. Tapi dengan prinsip Gaman, kamu diajarkan buat nggak gampang mengeluh dan tetap fokus pada solusi. Mentalitas tangguh inilah yang dicari perusahaan Jepang dari pekerja Indonesia. Aku udah cerita berkali-kali kan, kerja di Jepang itu berat, dan budaya kerjanya lebih keras. Anggap aja proses belajar bahasa Jepang kalian ini sebagai proses latihan bertahan dari beratnya kerja di Jepang.
Setelah ngikutin sampai sini apa yang kalian tangkap? Ya nggak perlu berubah jadi "Jepang banget" dalam semalam sih, cukup mulai terapin beberapa kebiasaan yang aku jelasin tadi dikit-dikit ya. Sebenernya prinsip-prinsip tadi itu tentang menjalani hidup, tapi kita sebenernya bisa kaitkan sama cara belajar bahasa Jepang juga. Dengan prinsip tadi kita bisa belajar OTODIDAK lebih teratur. Kalau ragu dengan cara sendiri, bisa coba lirik program Akselerasi N4 dalam 15 Hari untuk dapetin cara belajar bahasa Jepang OTODIDAKnya. Udah ah pesan sponsornya sampe sini aja ya.
Kalau udah pada dapet pointnya aku izin tutup di sini. Next kalau ada yang ingin kita bahas berikutnya bisa tulis di kolom komentar ya. Yuk, mulai bentuk kebiasaan barumu dari hari ini. Semangat, Guys!



Komentar
Kaizen aku nerapin kaizen mungkin orang 1% persen sehari tapi aku 01% karena aku ga seproduktif orang orang
arigatou sensei
Kalo ada uang dan bisa bahasa jepang mungkin aku akan pergi ke jepang